Pennsylvania, Gontornews – Sejumlah peneliti mengungkapkan bahwa peningkatan suhu global sepanjang Januari-Desember 2017 berada di angka 0,99 derajat Celcius atau tertinggi dari ambang batas kesepakatan Paris yang berada di angka 1,5 derajat celcius pertahun.
Peningkatan suhu ini jadi yang tertinggi setelah sebelumnya mengalami peningkatan suhu pada tahun 1850 dan tahun 2000 silam. Ironisnya, peningkatan suhu ini tidak melibatkan naiknya suhu akibat badai El-Nino karena sepanjang 2017 suhu di Samudera Pasifik bergerak ke fase La Nina yang lebih dingin.
“Sementara perubahan iklim mengubur mereka dalam tumpukan pasir, pemanasan global akan terus berlanjut,” kata Prof Michael Mann dari Pennsylvania State University, AS, sebagaimana dilansir The Guardian.
“Di antara dampak pemanasan global yang terjadi yaitu kebakaran hutan, badai, banjir yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Saat ini, fenomena itu tampak jelas terlihat oleh semua orang. Belum pernah ada perhatian sedemikian besar,” tambahnya.
Para ilmuwan juga sepakat bahwa jika emisi karbon terus meningkat, maka suhu bumi dari tahun ke tahun akan terus meningkat.
“Suhu global akan terus meningkat dari tahun ke tahun, namun pasang surut di bawahnya akan meningkat dengan cepat,” ujar Prof David Reay dari Universitay of Edinburgh, Inggris.
“Upaya terbaik yang bisa kami lakukan sejauh ini terus dilakkan meski pemanasan global terus berlanjut.”
“Ini panggilan lain untuk mengembangkan ekonomi berbasis nir karbon sebelum terlambat,” tambahnya.
Senada dengan Prof David Reay, Dr Dan Mitchell dari Universitay of Bristol mengatakan bahwa ambang batas Kesepakatan Paris yaitu 1,5 derajat celcius semakin mendekat.
“Kami semakin dekat dengan ambang batas Kesepakatan Paris yaitu peningkatan suhu 1,5 derajat celcius yang sangat kami hindarkan,” kata Mitchell.
Direktur Eksekutif Dewan iklim Australia, Amanda McKenzie, menunjukkan sejumlah cuaca ekstrem yang terjadi di Australia sepanjang 2017 akibat pemanasan global.
“Bukti perubahan iklim di Australia yaitu terjadinya cuaca ekstrem pada 2017. Ini jelas merupakan peringatan bagi pemerintah untuk segera mengurangi penggunaan gas rumah kaca di Australia dalam rangka melindungi warga Australia dari meningkatnya kejadian cuaca ekstrim. [Mohamad Deny Irawan]
























