Beirut, Gontornews — Wilayah barat laut Suriah yang dikuasai pemberontak akan menerima pengiriman pertama vaksin virus korona AstraZeneca pada akhir bulan depan, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Selasa (23/2).
Dosis tersebut diperoleh melalui program Covax badan PBB, yang bertujuan untuk memberikan akses yang adil di seluruh dunia terhadap vaksin melawan COVID-19.
Sebanyak 35-40 persen vaksin akan tersedia pada kuartal pertama 2021, dan 60 hingga 65 persen pada kuartal kedua, kata jurubicara WHO.
Direktorat kesehatan untuk wilayah yang dikuasai oposisi mengatakan pihaknya diperkirakan menerima 120.000 dosis vaksin AstraZeneca bulan depan.
“Mereka akan mencakup 60.000 orang, dimulai dengan petugas kesehatan garis depan, orang tua dan orang sakit kronis,” kata juru bicaranya Imad Zahran dikutip Arabnews.com.
Bagian barat laut Suriah, yang sebagian besar dikendalikan oleh Hayat Tahrir Al-Sham (HTS), merupakan rumah bagi sekitar empat juta orang, termasuk 2,8 juta yang membutuhkan bantuan segera.
HTS adalah aliansi yang didominasi oleh mantan anggota bekas afiliasi Al-Qaeda Suriah. Kelompok hak asasi khawatir kamp pengungsian yang padat di daerah itu bisa sangat kondusif bagi wabah virus korona yang kritis.
Kubu pemberontak telah melaporkan 21.136 infeksi dan 408 kematian sejak wabah dimulai tahun lalu.
Di wilayah yang dikuasai pemerintah di Suriah, pihak berwenang telah mencatat 15.230 infeksi virus korona dan 1.001 kematian. Wilayah di bawah kendali Kurdi di timur laut negara itu telah mencatat hampir 8.600 kasus dan 313 kematian.
Tetapi dokter dan organisasi hak asasi percaya jumlahnya mungkin jauh lebih tinggi, terutama di timur laut Suriah karena pemerintah telah menolak untuk mengizinkan PBB mendirikan laboratorium pengujian COVID.
Seorang pejabat pemerintahan Kurdi di timur laut Suriah mengatakan, mereka sedang dalam pembicaraan dengan WHO untuk pengadaan vaksin virus corona tetapi belum tercapai kesepakatan. []























