Tujuan pendidikan merupakan hal utama yang harus dirumuskan sebelum berlangsung sebuah proses pendidikan dan pengajaran. Tanpa tujuan yang jelas, proses yang ditempuh akan berujung pada kegagalan atau ketidakpastian. Justru keberhasilan program pendidikan ditentukan oleh perumusan tujuan pendidikan yang ideal. Karena akan mengarahkan pada landasan filosofis, program, dan seluruh aktivitas pendidikan yang mengantarkan pada kualifikasi individu Muslim dan umat yang berkualitas. Sejalan dengan misi menjadi ‘Muslim kaffah’ yang diperintah oleh Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِ ۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Menjadi individu dan masyarakat Muslim yang ‘kaffah’ tidak mungkin terealisir tanpa peran dan kontribusi besar dari sistem yang menaungi semua aspek pendidikan dan pengajaran, serta dipedomani oleh semua tenaga pendidik dan lembaga pendidikan. Oleh karena itu, aktitivitas pendidikan merupakan aktivitas setiap Muslim yang senantiasa mendampingi dan mewarnai kehidupannya. Maka tujuan utama pendidikan pun harus selaras dan berjalan beriringan dengan tujuan hidup itu sendiri.
Naquib al Attas dalam Islam dan Sekularisme (2011, Bandung: PIMPIN) merumuskan tujuan pendidikan yaitu mengembalikan manusia kepada fitrah kemanusiaannya, sehingga mampu mengimplemetasikan fungsi utama penciptaannya; sebagai hamba Allah (Abdullah) dan sebagai khalifah di bumi (khalifah fi al-ardh).
Sebelumnya disampaikan oleh Athiyyah Al-Abrasyi dalam ‘At-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Falsafatuha’ (1975, Mesir: Musthafa Al-Babi Al-Halaby), bahwa tujuan pendidikan yang pertama berorientasi ukhrawi dengan membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah. Kedua, tujuan yang berorientasi duniawi, membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kebutuhan dan tantangan hidupnya, agar hidupnya lebih bermanfaat bagi orang lain.
Al-Qur’an sangat memperhatikan aspek pendidikan, khususnya bagaimana tujuan utama pendidikan dicapai dengan baik. Al-Qur’an juga banyak memberi contoh pendidik dari kalangan nabi dan orang-orang shalih yang berhasil menjalankan pendidikan menuju tujuan utama yang digariskan. Di antara ayat yang layak dijadikan sandaran bagaimana tujuan pendidikan dirumuskan oleh Al-Qur’an yaitu surat Al-Baqarah: 151 sebagai berikut:
كَمَآ أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْكُمْ ءَايَٰتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا۟ تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
Ayat ini merupakan ayat kedua sesuai susunan dalam mushaf Al-Qur’an, sekaligus yang paling lengkap yang menegaskan tujuan utama diutusnya Rasulullah SAW sebagai pendidik umat, setelah sebelumnya di surat Al-Baqarah: 129 Nabi Ibrahim AS berdoa agar diutus seorang Rasul yang menjalankan tiga tugas utama, yaitu tilawah (membacakan Al-Qur’an), tazkiyah (menyucikan jiwa), dan ta’lim (memberi pengajaran). Berdasarkan kedua ayat tersebut, maka tujuan utama pendidikan yang dijalankan oleh Rasulullah SAW sebagai penyempurna nikmat Allah SWT bagi umat Islam, yaitu: Pertama, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dalam arti memperkenalkan dan memahamkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya untuk dijadikan pedoman kehidupan. Kedua, membersihkan jiwa dan hati mereka dari segala jenis kekotoran dan kerusakan, khususnya syirik dan maksiat. Ketiga, mengajarkan ilmu yang dikaitkan dengan Al-Qur’an dan Hikmah (Sunnah). Keempat, mengajarkan berbagai jenis ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sebagaimana tertuang dalam pesan Nabi kepada sahabatnya dalam hadis yang dikeluarkan oleh Imam Muslim tentang praktik mengawinkan kurma agar menghasilkan buah kurma yang lebih baik, “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”
أنتم أعلم بأمور دنياكم
Wahbah Az-Zuhaily dalam Tafsir Al-Wajiz menjelaskan ayat paling lengkap tentang tujuan diutusnya Rasulullah SAW bahwa penyempurnaan nikmat itu seperti penyempurnaan risalah yang dilakukan dengan mengutus Nabi Muhammad SAW untuk membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menyucikan diri manusia dari kesyirikan, kecenderungan menyembah berhala, dan akhlak buruk, serta mengajarkan Al-Qur’an, menulis, dan menghilangkan fenomena buta huruf, pemahaman tentang hukum-hukum syariat, dan pengetahuan tentang rahasia-rahasianya, juga mengajarkan tentang urusan dunia dan akhirat, serta sesuatu yang belum kalian ketahui sebelumnya.
Nilai-nilai agung dari Al-Qur’an ini jika dikaitkan dengan Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka terdapat titik temu yang semakin meyakinkan nilai universal dari Al-Qur’an dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam bidang pendidikan. Pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam rangka memberi contoh aplikatif akan misi luhur dari tujuan utama pendidikan serta nilai-nilai agung yang terkandung di dalamnya, Allah SWT mengutus Rasul-Nya sebagai pendidik dalam semua aspek kependidikan, termasuk bagaimana tujuan pendidikan diimplementasikan dalam kehidupan para sahabatnya. Rasulullah SAW menegaskan tentang identitas pendidiknya sebagai misi utama diutus oleh Allah SWT kepada umatnya,
أنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْنِي مُعَنِّتًا وَلَا مُتَعَنِّتًا وَلَكِنْ بَعَثَنِي مُعَلِّمًا مُيَسِّرًا
“Allah tidak mengutusku sebagai orang yang kaku dan keras akan tetapi mengutusku sebagai seorang pendidik dan mempermudah.” (HR Muslim No. 2703)
Dengan sifat dan akhlak Nabi yang lembut, ramah, kasih sayang, dan berusaha memberi kemudahan, maka para sahabat mudah mengamalkan semua tuntunan pendidikan dari baginda Nabi SAW. Karena setinggi dan ideal apa pun tujuan pendidikan yang ditetapkan, manakala pendidik tidak mencerminkan akhlak yang mulia, tidak akan mampu menghasilkan individu dan masyarakat Muslim yang sesuai dengan tujuan utama pendidikan. Di ayat yang lain, Allah SWT menegaskan tujuan utama mengutus Rasul-Nya sebagai pendidik bagi umatnya di surat Ibrahim: 1 dan surat Al-Hadid: 9.
الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
“Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.” (QS. Ibrahim: 1)
هُوَ ٱلَّذِى يُنَزِّلُ عَلَىٰ عَبْدِهِۦٓ ءَايَٰتٍۭ بَيِّنَٰتٍ لِّيُخْرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ بِكُمْ لَرَءُوفٌ رَّحِيمٌ
“Dialah yang menurunkan ayat-ayat yang terang (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad) untuk mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan sungguh, terhadap kamu Allah Maha Penyantun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hadid: 9)
As-Sa’di memahami frasa “dari kegelapan menuju cahaya” adalah dari gelapnya kebodohan dan kekufuran menuju cahaya ilmu dan iman. Iman dan ilmu merupakan di antara buah dan hasil penting dari proses pendidikan. Buah keimanan yang mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadah mereka. Selanjutnya ilmu pengetahuan yang meningkatkan kemampuan menjalankan kehidupan dunia yang bermanfaat untuk sesama. Di akhir tafsirnya, As-Sa’di menuturkan: Inilah di antara bentuk kasih sayang dan cinta Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya, karena Dia Maha Pemurah kepada seluruh hamba-Nya melebihi cinta seorang ayah terhadap anaknya. Itulah perjalanan panjang proses pendidikan yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW terhadap masyarakat Arab, dalam rangka merealisasikan tujuan utama pendidikan. Keimanan yang berbuah kehidupan yang lebih baik, serta ilmu yang berbuah peningkatan taraf dan kualitas kehidupan.
Dari masyarakat yang awalnya jahiliyah penuh dengan perilaku buruk dan nista, serta umiyah yang ditandai dengan buta huruf ilmu pengetahuan, menjadi masyarakat yang digambarkan sebagai ‘Khaira ummah’ yang layak dijadikan contoh oleh semua umat manusia.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kalian umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka orang-orang yang fasik”. (QS Ali Imran: 110). []






















