Tunis, Gontornews – Tunisia telah menangkap ratusan pemuda dan mengerahkan pasukan ke sejumlah wilayah setelah terjadi kerusuhan tiga malam berturut-turut di sejumlah kota di Tunisia, kata para pejabat, Senin (18/1).
Arabnews.com merilis, kerusuhan itu terjadi setelah Tunisia memberlakukan penguncian nasional untuk membendung peningkatan infeksi virus korona pada hari Kamis – hari yang sama dengan peringatan ulang tahun ke-10 jatuhnya kekuasaan diktator Zine El Abidine Ben Ali.
Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Khaled Hayouni mengatakan, total 877 orang ditangkap, terutama “para pemuda berusia sekitar 15, 20 dan 25 tahun yang membakar ban dan tong untuk memblokir pergerakan pasukan keamanan.”
Sementara itu Jurubicara Kementerian Pertahanan Mohamed Zikri mengatakan, tentara telah mengerahkan bala bantuan ke sejumlah wilayah di negara itu.
Hayouni mengatakan bahwa beberapa dari mereka yang ditangkap melemparkan batu ke arah polisi dan bentrok dengan aparat keamanan.
“Ini tidak ada hubungannya dengan gerakan protes yang dijamin oleh undang-undang dan konstitusi,” kata Hayouni.
“Protes biasanya berlangsung di siang hari bolong … tanpa ada tindakan kriminal,” tambahnya.
Hayouni mengatakan dua polisi terluka dalam kerusuhan itu.
Belum diketahui apakah ada yang terluka di antara para pemuda yang ditangkap itu. Hayouni tidak menyebutkan pasal apa yang akan dituduhkan kepada mereka yang ditangkap.
Bentrokan terjadi di beberapa kota di Tunisia, sebagian besar di lingkungan kelas pekerja, namun belum diketahui apa faktor penyebabnya. Tapi itu terjadi ketika banyak warga Tunisia marah akibat layanan publik yang buruk dan elite politik yang berulang kali terbukti tidak dapat memerintah secara koheren satu dekade setelah revolusi 2011.
PDB menyusut sembilan persen tahun lalu, harga-harga kebutuhan pokok telah melonjak, dan sepertiga dari kaum muda menganggur.
Sektor pariwisata utama, yang sudah bertekuk lutut setelah serangkaian serangan jihadis yang mematikan pada tahun 2015, telah mendapat pukulan telak akibat pandemi.
Tunisia telah mencatat lebih dari 177.000 infeksi virus korona, termasuk lebih dari 5.600 kematian sejak pandemi meletus tahun lalu.
Penguncian empat hari berakhir pada Ahad malam, tetapi belum diketahui apakah pembatasan lain akan diberlakukan.
Tentara telah mengerahkan pasukan ke Bizerte di utara, Sousse di timur, serta Kasserine dan Siliana di Tunisia tengah, kata jurubicara Kementerian Pertahanan.
Sousse, resor pantai yang menghadap ke Mediterania, merupakan magnet bagi wisatawan asing sebelum terpukul oleh pandemi.
Krisis kesehatan dan kesengsaraan ekonomi yang terjadi telah mendorong semakin banyak orang Tunisia berusaha meninggalkan negara itu.
Pada Ahad malam di Ettadhamen, lingkungan kelas pekerja yang bergolak di pinggiran ibukota Tunisia, suasananya suram.
“Saya tidak melihat masa depan di sini,” kata Abdelmoneim, seorang pelayan, saat kerusuhan terjadi di sekitarnya.
Dia menyalahkan kekerasan pada elite politik pasca-revolusi di negara itu dan mengatakan bahwa para pemuda melakukan kerusuhan karena bosan dengan kegagalan para politisi.
Abdelmoneim bertekad untuk melintasi Mediterania menuju Eropa secepat mungkin, dan “tidak pernah kembali ke tempat yang menyedihkan ini”. []




















