Washington, Gontornews — Presiden AS Joe Biden pada 24 April menyebut peristiwa 1915 sebagai ‘genosida Armenia’. Sedangkan Turki dengan tegas menolak penyebutan pembunuhan 1915-1917 oleh Kekaisaran Ottoman
“Kami mengingat kehidupan semua orang yang tewas dalam genosida Armenia era Ottoman dan berkomitmen kembali untuk mencegah kekejaman seperti itu terjadi lagi,” kata Biden dalam sebuah pernyataan. Biden menjadi presiden AS pertama yang menggunakan istilah itu dalam pesan tahunan.
“Kami menegaskan sejarah. Kami melakukan ini bukan untuk menyalahkan tetapi untuk memastikan bahwa apa yang terjadi tidak pernah terulang,” ujarnya dikutip Hurriyetdailynews.com.
Seorang pejabat AS menegaskan kembali bahwa niatnya bukanlah untuk menyalahkan Turki modern, yang oleh pejabat itu disebut sebagai “sekutu penting NATO.”
Turki “sepenuhnya menolak” pernyataan Biden atas peristiwa tahun 2015 sebagai genosida, kata Menteri Luar Negeri Turki Mevlรผt รavuลoฤlu, beberapa menit setelah pernyataan Biden.
“Kami tidak memiliki apa pun untuk dipelajari dari siapa pun di masa lalu kami sendiri. Oportunisme politik merupakan pengkhianatan terbesar terhadap perdamaian dan keadilan,” kata Cavusoglu di Twitter.
“Kami sepenuhnya menolak pernyataan ini hanya berdasarkan populisme.”
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoฤan mengatakan, ada pihak ketiga yang ingin mencampuri urusan Turki.
“Tidak ada yang diuntungkan dari debat – yang seharusnya dilakukan oleh sejarawan โ yang dipolitisasi oleh pihak ketiga dan menjadi instrumen campur tangan terhadap negara kami,” kata Erdogan di Istanbul.
“Kami menolak dan mengecam dengan tegas pernyataan Presiden AS mengenai peristiwa tahun 1915 yang dibuat di bawah tekanan kelompok Armenia radikal dan kelompok anti-Turki … Jelas bahwa pernyataan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah dan hukum, juga tidak didukung oleh bukti apa pun. Pernyataan ini hanya akan membuka luka yang dalam yang merusak rasa saling percaya dan persahabatan kita. Kami meminta Presiden AS untuk memperbaiki kesalahan ini,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.
Menurut Turki, kematian orang-orang Armenia di Anatolia timur pada tahun 1915 terjadi ketika beberapa pihak berpihak pada invasi Rusia dan memberontak melawan pasukan Ottoman. Relokasi orang Armenia berikutnya mengakibatkan banyak korban.
Turki keberatan dengan pernyataan insiden ini sebagai “genosida”. Sebab, banyak korban di kedua belah pihak. Ankara telah berulang kali mengusulkan pembentukan komisi bersama sejarawan dari Turki dan Armenia serta pakar internasional untuk menangani masalah tersebut.
Presiden AS sebelumnya, Barack Obama dan Donald Trump, telah menahan diri untuk tidak menyebut kematian orang Armenia sebagai “genosida”. Presiden Barack Obama menyebutnya “Meds Yeghern” atau “Kejahatan Besar” untuk menggambarkan tragedi tersebut. Trump juga menyebut “Kejahatan Besar”. []





















