Bogor, Gontornews — Pimpinan AQL Center, Buya Iswahyudi, menjelaskan bahwa peringatan Milad ke-14 AQL Islamic Center yang mengusung tema bahagia khatam Al-Quran bukan pemanis saja. Baginya, ada rahasia besar khatam Al-Quran dari Ustadz Bachtiar Nasir (UBN).
“Ramadhan itu bulan Al-Quran. Untuk bisa maksimal di bulan Ramadhan kita latihan di bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban juga itu bulan Qurra’, bulannya para ahli Al-Quran yang memaksimalkan bulan itu untuk khatam Al-Quran,” kata Buya Iswahyudi saat ditemui di Kampus STIQ Ar-Rahman, Jonggol, Ahad 24 Juli 2022.
Buya Iswahyudi tidak menampik bahwa saat ini program khatam Al-Quran mendapatkan respons yang sangat tinggi di tengah masyarakat, tidak saja dalam negeri tapi juga luar negeri. Sebut saja mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Turki yang membuat majelis khatam Al-Quran.
“Itu respons atau antusias jamaah sangat tinggi. Bahkan, ada beberapa jamaah yang khatam Al-Quran dalam satu bulan itu sembilan sampai sepuluh kali. Dalam setiap tiga hari, bisa khatam Al-Quran,” tutur Buya Iswahyudi dalam rilis yang diterima Gontornews.
Oleh karena itu, banyak jamaah yang bercerita tentang keberkahan setelah konsisten mengkhatamkan Al-Quran. Program itu juga turut dirasakan oleh UBN dalam mengembangkan dakwah tadabur bersama AQL Islamic Center.
“Program-program kami banyak dimudahkan. Keberkahan khatam Al-Quran itu sangat terasa,” ucap Buya Iswahyudi.
Sejak itu, UBN selalu menginstruksikan setiap unit AQL untuk menjadikan khatam Al-Quran sebagai program wajib. Setiap program, pinta UBN, harus dimulai dengan khataman Al-Quran, seperti gerakan sosial yang diselenggarakan oleh AQL Peduli. Sebut saja, khitanan massal AQL Peduli di mana sebelum acara, semua peserta, panitia, dan semua pihak yang terlibat harus mengkhatamkan Al-Quran secara berjamaah.
Karena keberkahan program khatam Al-Quran ini, UBN tidak ragu untuk menetapkan Bahagia Khatam Al-Quran sebagai tema Milad ke-14 AQL Islamic Center. Melalui agenda ini, AQL ini berharap setiap umat Islam dapat merasakan keberkahan dari kegiatan khatam Al-Quran.
“Ini juga ingin disebar agar bisa dirasakan oleh masyarakat luas, dan menjadi gerakan masif,” ujar Buya Iswahyudi.
Di sisi lain, ada misi besar di balik tema tersebut. AQL merupakan lembaga yang menjadikan tadabur sebagai titik fokus gerakan dakwah. Bagi sebagian masyarakat, tadabur terkesan sangat berat, karena harus memiliki keluasan ilmu dan wawasan.
“Tadabur mungkin di awal terasa berat bagi masyarakat umum, maka kita mulai dengan hal yang mudah dulu, tilawah Al-Quran sampai khatam. Khatam Al-Quran itu ketika disebarkan, keberkahan Al-Quran akan memberikan banyak kebaikan, baik kepada pribadi, masyarakat, bahkan bangsa kita,” ujar Buya Iswahyudi.
“Bersamaan dengan itu keinginan untuk memahami makna dan maksud dari setiap ayat yang dibaca serta dorongan untuk mengamalkannya terus kita kuatkan melalui gerakan tadaburnya,” lanjut Buya Iswahyudi.
Jika gerakan itu sudah masif, kata Buya Iswahyudi, maka masyarakat akan semakin dekat dengan Al-Quran. Misal satu kali dalam sebulan khatam Al-Quran, bisa dua kali, tiga kali, atau bahkan sepuluh kali.
“Kalau dalam 40 hari, belum khatam juga, itu sudah dianggap lalai terhadap Al-Quran. Jadi, minimal satu kali khatam satu bulan. Kalau gerakan itu masif, in syaa Allah keberkahan bagi bangsa kita bisa dirasakan,” kata Buya Iswahyudi. [Mohamad Deny Irawan]




















