New York, Gontornews — Kepala Urusan Pengungsi Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nation High Commission of Refugee/UNHCR), Filippo Grandi, mengatakan bahwa serangan mematikan yang menyerang komunitas muslim di Selandia Baru merupakan sisi negatif dari buruknya perkembangan politik dan media yang mengurusi persoalan pengungsi, migran serta orang asing dalam lebih dari 30 tahun ke belakang.
“Saya belum pernah melihat ‘racun’ seperti ini. Racun dalam bahasa politik, media, media sosial bahkan dalam percakapan sehari-hari seputar masalah ini,” kata Grandi dalam pertemuan UNHCR seputar situasi pengungsi global sebagaimana dilansir Reuters.
“Keracunan ini berfokus pada pengungsi, pada migran dan para orang asing. Apa yang telah kita lihat di Christchurch, Selandia Baru adalah hasil dari bahasa politik yang beracun itu,” tambahnya.
Setelah tragedi berdarah tersebut, Parlemen dan Pemerintah Australia mengalami perdebatan sengit soal kebijakan mereka mengenai ras di masa lalu serta wacana politik tentang imigrasi dan kelompok Islam.
Lebih lanjut, Grandi mengapresiasi langkah Selandia Baru dalam menanggapi serangan tersebut.
“Menanggapi tren beracun ini dengan cara yang tegas dan terorganisir serta nyatakan kembali nilai-nilai yang mendukung solidaritas yang harus kita berikan kepada para pengungsi.”
“Masyarakat kita tidak akan benar-benar makmur, stabil dan damai jika mereka tidak memasukkan semuanya,” pungkas Grandi. [Mohamad Deny Irawan]





















