Tunis, Gontornews — Uni Eropa menandatangani nota kesepahaman dengan Tunisia, Ahad (16/07/2023), terkait upaya memerangi migrasi ilegal dari Afrika menuju Eropa. Presiden Uni Eropa Ursula Von der Leyen, PM Belanda Mark Rutte dan PM Italia Giorgia Meloni bertemu Presiden Tunisia, Kais Saied
Kedua blok tersebut menganggap persoalan migran dan pengungsi yang berangkat dari Tunisia menuju Eropa meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Jumat (14/07/2023), Kementerian Dalam Negeri Italia menghitung lebih dari 75.000 migran yang tiba di pantai Italia dengan menggunakan perahu. Angka ini meningkat drastis ketimbang 31.900 migran yang datang ke Eropa melalui Italia pada periode yang sama tahun lalu.
“Tunisia dan Uni Eropa terikat oleh sejarah dan geografi serta kepentingan strategis yang sama,” ungkap Presiden Komisi Eropa, Ursula Von der Leyen, di Istana Presiden Tunisia.
Sementara itu, Presiden Tunisia, Kais Saied, menganggap kesepakatakan bersama itu penting seiring terjadinya migrasi yang tidak manusiawi. Ia bahkan sepakat dengan Uni Eropa yang menyalahkan jaringan kriminal ilegal.
“Memorandum ini harus digabungkan pada saat paling awal dengan seperangkan perjanjian mengingkat yang berasal dari prinsip-prinsip yang disepakati,” ungkap Saied sebagaiman dilansir Al Jazeera.
Jika Eropa mendapatkan ‘bantuan’ dalam membatasi masuknya migran ilegal dari Afrika, Tunisia mendapatkan sejumlah bantuan khusus dari Uni Eropa. Tunisia mendapatkan bantuan 10 juta Euro dalam bentuk pertukaran pelajar dan 65 juta Euro untuk memodernisasi sekolah di Tunisia.
“Kami membutuhkan kerja sama yang lebih efektif dari sebelumnya,” kata Von der Leyen, saat mengumumkan paket bantuan Uni Eropa ke Tunisia.
Uni Eropa, kata Von der Leyen, bahkan menjanjikan bantuan 100 juta euro tambahan untuk meningkatkan kemitraan. Sebut saja, kemitraan anti-penyelendupan serta meningkatkan koordinasi dalam operasi pencarian dan penyelamatan.
Badan perbatasan Eropa, Frontex, melaporkan rute Mediterania Tengah merupakan jalur migrasi paling efektif menuju Eropa sepanjang tahun 2023. Sepanjang 2023, mereka telah melaporkan hampir 66.000 perjalanan migrasi ilegal kepada otoritas terkait.
“Rute ini menyumbang satu dari setiap dua jalur masuk tidak teratur ke Uni Eropa,” kata Frontex dalam ketarangan resminya.
Rute Mediterania Tengah menghubungkan negara-negara Afrika Utara seperti Tunisia, Aljazair, Mesir dan Libya dengan Italia dan Malta. [Mohamad Deny Irawan]





















