Riyadh, Gontornews — Pemerintah Arab Saudi memperingatkan “konsekuensi bencana” dari hukum Amerika Serikat yang memungkinkan korban serangan gedung WTC pada 11 September menuntut Kerajaan Saudi. Keputusan hukum ini bisa membuat hubungan dua sekutu lama itu menegang.
Peringatan itu datang setelah Kongres AS menolak veto Presiden Barack Obama atas undang-undang keadilan melawan terorisme (Jasta). Dalam undang-undang Jasta disebutkan, korban atau keluarga korban selamat dari serangan terorisme 11 September bisa menuntut ganti rugi pemerintah asing di pengadilan federal AS jika pemerintah tersebut terbukti terlibat dalam serangan di wilayah AS itu.
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyerukan Kongres AS untuk mengambil tindakan yang diperlukan untuk melawan konsekuensi bencana dan berbahaya atas hukum itu. Jurubicara yang tidak disebutkan namanya, mengatakan hukum tersebut memicu kekhawatiran besar.
“Undang-undang ini melemahkan imunitas negara dan memiliki dampak negatif pada semua negara termasuk Amerika Serikat,” kata jurubicara itu seperti dilansir laman gulfnews, Ahad (2/10).
Dalam menentang hukum, ujarnya, Obama mengatakan akan membahayakan kepentingan AS dengan merusak prinsip kekebalan berdaulat, membuka peluang tuntutan AS atas misi militernya di luar negeri.
Menteri Negara Urusan Luar Negeri UEA Dr Anwar Mohammad Gargash menggambarkan, tindakan itu sebagai preseden berbahaya dalam hukum internasional yang merongrong prinsip kekebalan berdaulat dan masa depan investasi berdaulat di AS.
“Jasta harus mempertimbangkan rasionalitas dalam hukum internasional dan investasi,” katanya memperingatkan dampak jangka panjang dan implikasi berbahaya lainnya.
Selama ini Riyadh dan Washington memiliki hubungan puluhan tahun berdasarkan pertukaran keamanan Amerika untuk minyak Saudi. Ada tudingan yang menyebutkan Arab Saudi sebagai rumah bagi 15 dari 19 pembajak Al Qaida yang melakukan serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Namun negara kerajaan kaya minyak itu membantah terlibat dalam serangan yang menewaskan hampir 3.000 orang tersebut. Hubungan antara Riyadh dan Washington menjadi semakin compang-camping di bawah kepemimpinan Obama, tetapi analis mengatakan kerjasama keamanan dan berbagi intelijen tetap solid.
Sebelumnya, Kongres Amerika Serikat menolak veto Presiden Barack Obama atas rancangan undang-undang yang memungkinkan keluarga korban serangan teroris 11 September 2001 menuntut Arab Saudi.
Pemungutan suara di Kongres AS, Kamis (29/9) WIB, berakhir dengan 348 menolak dan 77 mendukung. Penolakan dengan angka mutlak ini merupakan kali pertama dalam sejarah kepemimpinan Obama selama delapan tahun terakhir. [Ahmad Muhajir/Rus]



















