Hanoi, Gontornews — Pemerintah Vietnam, Senin (31/07/2023), belum memiliki rencana untuk membatasi ekspor berasnya dalam waktu dekat. Meski demikian, pemerintah Vietnam meminta pihak berwenang untuk menyeimbangkan neraca ekspor serta kebutuhan dalam negeri guna menstabilkan harga beras domestik.
Asosiasi Pangan Nasional Vietnam mengatakan perusahan Vietnam akan tetap mengekspor beras secara normal. “Saat ini, perusahaan Vietnam masih mengekspor beras secara normal,” kata seorang pejabat asosiasi pangan yang enggan menyebut nama kepada Reuters.
Sebelumnya, India, yang menyumbang 40 persen ekspor beras dunia, memerintahkan penghentian ekspor beras beberapa pekan lalu. Negara dengan populasi terbanyak di dunia 2023 itu berharap kebijakan pembatasan ekspor beras dapat menenangkan harga di pasar domestik. Pasalnya, harga beras domestik di India melonjak tinggi, bahkan menembus level tertinggi, karena cuaca yang tidak menentu telah mengancam produksi.
Pejabat yang enggan disebut namanya itu mengatakan harga beras Vietnam melonjak sejak langkah India pada 20 Juli lalu. Saat ini, Vietnam sedang memasuki periode panen beras saat memasuki musim gugur dan musim panas. Vietnam sendiri merupakan negara pengekspor beras tertinggi ketiga di dunia setelah India dan Thailand.
Sehari setelah pengumuman pembatasan ekspor beras oleh India, Kementerian Perindustrian dan Perdagangan vietnam meminta asosiasi untuk memastikan pasokan beras domestik. Mereka juga meminta para pedagang menyeimbangkan ekspor dan penjualan domestik guna menstabilkan harga.
Dalam tujuh bulan pertama tahun 2023, pemerintah memperkirakan kenaikan jumlah ekspor beras hingga 18,7 persen dari tahun sebelumnya menjadi 4,88 juta ton. Pemasukan negara dari ekspor tersebut juga meningkat 29,6 pesen menjadi 2,58 miliar dolar Amerika Serikat.
Pada Jumat (28/07/2023), Uni Emirat Arab mengumumkan pelarangan ekspor beras dan ‘akan kembali’ melakukan ekspor setelah empat bulan ke depan. [Mohamad Deny Irawan]





















