Chicago, Gontornews — Virus flu burung telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sejumlah dokter hewan dan pakar penyakit menyebut virus ini, untuk pertama kalinya, menjadi endemik pada beberapa burung liar yang menularkan virus ke unggas lain.
Penyebaran wabah virus flu burung telah meluas ke wilayah Amerika Utara, Amerika Selatan, Eropa, Asia hingga Afrika. Virus ini menyebar tanpa memandang musim panas atau pun musim dingin. Secara genetik, virus flu burung yang menyebar di Amerika Serikat pada tahun 2022 memiliki kemiripan dengan varian flu burung yang terkonfirmasi di Eropa dan Asia.
Pada Rabu (15/02/2023), dua negara Amerika Selatan, Argentina dan Uruguay, mengumumkan status darurat sanitasi nasional setelah mereka mengonfirmasi infeksi pertama. Jika Argentina melaporkan temuan virus pada unggas liar, maka Uruguay mengonfirmasi satu kasus kematian pertama akibat flu burung pada angsa.
Para ahli menyebut, penyebaran virus ini terjadi akibat ekspansi dari burung liar. Unggas-unggas air seperti bebek dapat membawa penyakit ini tanpa mati dan dapat menularkan ke unggas lain melalui kotoran, air liur atau cara lain yang menjadi penyebab terkontaminasi.
Di Amerika Serikat, sebuah peternakan bernama Rose Arce terpaksa kehilangan sekitar 1,5 juta ekor ayam di lokasi produksi Guthrie County, Iowa, tahun lalu. Padahal, Kepala Eksekutif Rose Arce, Marcus Rust, telah mengharuskan semua pihak yang hendak masuk ke kandang untun mandi terlebih dahulu.
Peternakan lain, Weld County, di Colorado bahkan terpaksa memusnahkan lebih dari 3 juta ekor ayam hanya dalam rentang waktu enam bulan saja. Rust menduga bahwa penularan ini terjadi karena angin membawa virus dari lokasi angsa buang air besar.
Reuters melansir, selain Amerika Serikat, ada Inggris, Prancis dan Jepang yang mencatatkan rekor kerugian dari upaya pemusnahan unggas dalam setahun terakhir. Para peternak mengaku pasrah tanpa bisa berbuat untuk mencegah penularan flu burung pada unggas ternaknya.
“Flu burung terjadi di sebuah peternakan baru dengan teknologi modern serta tanpa ventilasi udara. Jadi, yang bisa kami lakukan sekarang adalah memohon kepada Tuhan agar terhindar dari wabah,” ungkap Shigeo Inaba, seorang peternak ayam di distrik Ibaraki Tokyo Jepang.
Virus flu burung sangat berbahaya dan dapat mudah membunuh unggas-unggas. Jika satu unggas tertular virus, maka kawanannya juga harus ikut dimusnahkan sebagai langkah pencegahan.
Sementara upaya vaksinasi juga bukan solusi yang sederhana. Vaksin, lanjut para ahli, dapat mengurangi penularan tetapi tidak dapat menghilangkan ancaman penularan virus. Sejauh ini, Meksiko dan Uni Eropa, dua kawasan, yang menggunakan pendekatan vaksinasi atau mempertimbangkan suntikan vaksin kepada para unggas. [Mohamad Deny Irawan]





















