Jenewa, Gontornews — Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), mengatakan bahwa wabah Ebola di Kongo terancam meluas jika serangan dari kelompok bersenjata tidak dihentikan sementara, secara geografis, penyebaran wabah di beberapa wilayah di Kongo terabaikan.
“Saat ini, kami sangat prihatin dengan beberapa faktor yang mungkin datang bersamaan untuk menciptakan potensi musibah (ebola) yang sempurna,” ungkap Kepala Tanggap Darurat WHO, Peter Salama di Jenewa, Selasa (26/9).
WHO, sebagaimana dilansir Reuters, menyebut ada sekitar 100 orang tewas akibat wabah ebola di Kongo dengan rovinsi Kuvi Utara dan Ituri sebagai dua ‘penyumbang’ terbesar korban wabah dengan 150 kasus Ebola
Lebih lanjut, Salam mengatakan bahwa WHO telah bekerjasama dengan pemerintah setempat untuk melakukan vaksinasi terhadap warga Kongo sebagai bentuk pencegahan terhadap penyebaran wabah Ebola. Celakanya, upaya WHO ini terancam terkendala setelah terjadinya serangan yang menewaskan 21 orang di kota Beni, tempat dimana WHO bermarkas.
Selain itu, akibat serangan tersebut, pemerintah menetapkan kondisi “ville morte” atau masa berkabung hingga hari Jum’at. Setali tiga uang, langkah WHO dalam memvaksinasi pasien ebola pun terancam terganggu akibat kondisi tersebut. Padahal, WHO telah berhasil mengidentifikasi 3 kasus Ebola di Kota Beni dengan 80% masyarakat di wilayah tersebut telah memiliki kontak langsung dengan pasien Ebola.
WHO menjelaskan bahwa Ebola dapat menular secara langsung apabila terjadi kontak antara penderita dan orang sehat. Jika pun ditemukan interaksi, otoritas kesehatan setempat harus memastikan bahwa orang sehat yang memiliki kontak dengan pasien Ebola itu memasuki ruang inkubasi selama 21 hari untuk mencegah penyebaran secara luas. [Mohamad Deny Irawan]


















