Jakarta, Gontornews — Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Depok pada Ahad (14/9/2025) pagi sukses menggelar serangkaian acara besar di selasar Masjid Al-Hikam. Beberapa acara yang diadakan kala itu yakni Pengukuhan Mahasantri Baru Pesma Al-Hikam Depok, Wisuda Perdana Mahasantri Program Rekognisi, dan Launching Pesmaline. Selain itu, kegiatan ini juga diramaikan dengan kedatangan CEO Paragon Corp, Harman Subakat SSi yang turut memberikan orasi ilmiahnya.
Kepada Gontornews.com Ustadz Syauqu Habibie menginformasikan bahwa tercatat ada sepuluh wisudawan dan sepuluh wisudawati Pesma Al-Hikam tahun 2025 ini. Kemudian, terkait Pesmaline, ia merupakan platform pembelajaran Islam digital berbasis Ahlus Sunnah wal Jamaah yang terbuka untuk semua kalangan, mudah diakses, tanpa batasan ruang dan waktu.
Dihadiri oleh kurang lebih 250 tamu undangan yang terdiri atas Dewan Pembina Pesantren, Nyai Hj Mutammimah Hasyim Muzadi, Ketua Yayasan Al-Hikam Depok, Prof H Arif Zamhari PhD, Pengasuh Pesantren Al-Hikam, KH M Yusron Shidqi MAg, Pengasuh Pesantren Al-Hikam Malang, Drs KH Muhamad Nafi’, dewan asatidz, tamu undangan, dan wali wisudawan juga para santri.
Dalam sambutannya, KH Yusron berharap, “Mahasantri Pesantren Al-Hikam adalah masa depan Republik Indonesia.” Oleh karena itu, lanjutnya, 15-20 tahun ke depan pendidikan, pendampingan, pengawalan intelektual, pengawalan penghayatan agama, serta penyiapan skill untuk kesiapan hidup merupakan hal yang mutlak yang harus dilakukan dan didukung masyarakat Indonesia dalam rangka menyongsong 2045. Dengan kata lain, maka masa depan Indonesa 2045 ditentukan oleh kualitas mahasiswa saat ini.
Apabila mahasantri saat ini bermoral, mengajarkan dan mengamalkan ilmu agama, berkomitmen terhadap nilai luhur, etika dan moral agama, maka in syaa Allah dalam menyongsong 2025 kita akan optimis mampu menghadapi tantangan kehidupan yang selalu berubah.
Mengutip wasiat KH Hasyim Muzadi, “Pondok pesantren harus mampu berkontribusi, berjuang mendampingi para mahasantri untuk tetap berkomitmen menjalankan ajaran agama Islam dalam kondisi apa pun dan dalam dinamika apa pun. Sekaligus menjadi civitas akademika di kampus-kampus.” [Edithya Miranti]





















