Teheran, Gontornews — Menteri Luar Negeri Iran, Mohammed Javad Zarif, mengatakan Uni Eropa (UE) harus meningkatkan investasinya di Iran agar kesepakatan nuklir yang terancam gagal bisa dipertahankan setelah penarikan AS dari pakta multinasional itu awal bulan ini.
Zarif mengatakan itu pada hari Ahad di ibukota Iran, Tehran, dalam pertemuan dengan Miguel Arias Canete, komisaris Uni Eropa untuk energi dan iklim.
“Dalam keadaan saat ini, kemauan politik Uni Eropa tidak cukup untuk mempertahankan kesepakatan nuklir,” kata Zarif seperti dikutip Aljazeera.
“Uni Eropa perlu mengambil langkah lebih praktis dan meningkatkan investasinya di Iran jika ingin melanjutkan kerjasama ekonomi dengan Republik Islam Iran.”
Komentarnya muncul setelah beberapa perusahaan Eropa menyatakan kekhawatirannya untuk melanjutkan bisnis dengan Iran setelah keluarnya AS. Mereka juga meragukan kelangsungan kesepakatan itu.
Perusahaan pengapalan Denmark, Maersk Tankers, perusahaan asuransi Allianz dan pabrikan baja Italia, Danieli, semuanya mengumumkan rencananya untuk menghentikan operasinya di negara itu.
Raksasa energi Prancis, Total, juga telah memperingatkan akan menarik keluar dari proyek bernilai miliaran dolar untuk mengembangkan ladang gas Pars Selatan yang sangat luas kecuali diberikan pembebasan oleh otoritas AS.
Berdasarkan kesepakatan 2015 yang ditandatangani di Wina dengan enam kekuatan dunia – AS, Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Uni Eropa – Iran menghentikan pengayaan uranium dan berjanji tidak akan mengejar senjata nuklir.
Sebagai gantinya, sanksi terhadap ekonomi Iran dicabut dan Teheran diizinkan untuk melanjutkan perdagangan minyak dan gas di pasar internasional. Sebanyak US$ 100 miliar dalam aset-aset Iran yang dibekukan juga dibebaskan.
Sejak itu, Iran secara bertahap membuka negaranya untuk investasi asing – termasuk Eropa – dan menyambut lebih banyak pengunjung asing, menyuntikkan miliaran dolar ke dalam perekonomiannya yang sedang sakit.
Namun pada 9 Mei, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keputusan untuk menarik diri dari kesepakatan itu dan memberlakukan sanksi ekonomi yang keras – sebuah langkah dengan implikasi besar untuk perdagangan minyak global dan transaksi bisnis multi-miliar dolar.
Keputusan Trump itu mementahkan penandatanganan pakta. Mereka ragu untuk melanjutkan kesepakatan itu.
Teheran juga memperingatkan, pihaknya dapat melanjutkan pengayaan uranium “tanpa batas” jika kesepakatan nuklir, secara resmi dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), berantakan.
Dalam beberapa hari terakhir, para pejabat tinggi Uni Eropa telah bersumpah untuk terus bekerjasama demi menyelamatkan perjanjian tersebut.
Setelah pertemuannya dengan Zarif, Arias Canete menyuarakan janji itu dengan menyatakan komitmen blok itu terhadap perjanjian tersebut.
“Pesan kami sangat jelas. Ini adalah perjanjian nuklir yang berhasil,” katanya kepada wartawan.
“Apa yang dia (Zarif) tanyakan kepada Uni Eropa adalah bahwa kita harus memiliki solusi konkret untuk mengimplementasikan komitmen Uni Eropa, yang merupakan sesuatu yang kita akui sepenuhnya.”
Namun Arias Canete mengakui, pengumuman oleh beberapa perusahaan Eropa untuk tidak akan melanjutkan investasi di Iran, bagaimanapun, telah membuat situasi saat ini jauh lebih rumit. [Rusdiono Mukri]






















