Cox’s Bazar, Gontornews – Seorang pengungsi Rohingya bernama Mohib Bullah (43) memiliki data penting jumlah korban yang tewas akibat serangan yang dilakukan pemerintah Myanmar terhadap kaum minoritas Muslim Rohingya di Rakhine.
Dalam catatannya, Mohib menemukan bahwa jumlah warga Rohingya yang tewas akibat serangan tersebut berjumlah lebih dari 10.000 warga. Uniknya, Mohib memiliki ‘katalog’ korban tewas berdasarkan nama, usia, nama ayah, alamat tempat tinggal hingga bagaimana mereka bisa terbunuh.
“Ketika saya menjadi pengungsi, saya merasa harus melakukan sesuatu,” ungkap Mohib Bullah yang disebut reuters sebagai bagian dari saksi hidup dan sejarah kekejaman pemerintah Myanmar terhadap minoritas Rohingya.
Dalam catatannya pula, Mohib berhasil menemukan dan mencatat penemuan 376 mayat militan Rohingya yang tewas sepanjang 25 Agustus hingga 5 September 2017 silam. Ironisnya, tanggal tersebut merupakan tanggal di mana tentara militer Myanmar menghentikan serangan kepada militan Rohingya.
Kini, sejumlah personel keamanan Myanmar mengadakan pengawasan lebih ketat menyusul adanya rencana pemulangan balik pengungsi Rohingya dari Bangladesh ke Rakhine.
Sebaliknya, melalui data yang dimiliki Mohib Bullah, warga Rohingya kini ‘dipersenjatai’ dengan daftar jumlah warga Rohingya yang telah tewas, gambar-gambar serta video kekejaman yang berhasil direkam oleh kamera ponsel mereka.
Sebagiamana diketahui, undang-undang kewarganegaraan Myanmar yang dirilis pada tahun 1982 tidak mengakui keberadaan etnis Rohingya.
Akibatnya, mereka tidak memiliki status kewarganegaraan hingga saat ini. Mereka lantas ‘terusir’ dari rumahnya ke Bangladesh setelah militer Myanmar menyerang pemukiman Rohingya di Rakhine.
Masyarakat Rohingya menuduh militer Myanmar telah melakukan pemerkosaan dan pembunuhan di Rakhine Utara yang saat ini sudah rata dengan tanah dan beberapa desa telah habis terbakar. PBB pun mengakui bahwa militer Myanmar telah melakukan genosida di wilayah tersebut.
Lebih lanjut, data yang dimiliki Mohib juga menemukan bahwa lebih dari 1000 orang Rohingya tewas di tepi Sungai Tula Toli di distrik Maungdaw, Rakhine, Myanmar.
“Kami hanya bisa mendapatkan 750 nama, jadi kami pergi dengan 750 nama tersebut,” ungkap pria yang bekerja sebagai pekerja paruh waktu tersebut.
“Kami pergi dari keluarga satu ke keluarga lain dan nama demi nama,” tambah Mohib yang tergabung dalam Arakan Rohingya Society for Peace and Human Rights (ARSPHR) itu.
“Sebagian besar informasi berasal dari keluarga yang terkena dampak (kekerasan militer Myanmar). Beberapa kasus kami temukan berasal dari para tetangga. Dan bebrapa berasal dari orang-orang yang berada dari desa lain ketika kami tidak mampu menemukan kerabatnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Mohib mengakui bahwa proses wawancara dan pencarian informasi terhadap jumlah warga Rohingya yang tewas sangat sulit karena rendahnya tingkat pendidikan mereka.
“Orang-orang kami tidak berpendidikan dan merasa bingung saat kami melakukan wawancara maupun investigasi,” kata mantan pejabat desa Kyauk Pan Du, Mohammed Rafee, yang ikut bergabung dengan tim investigasi yang dibentuk Mohib.
Rafee juga mengakui bahwa data yang dimiliki Mohib sangat baik dan dapat dipertanggungjawabkan. [Mohamad Deny Irawan]





















