Rangkasbitung, Gontornews — Teriknya mentari Rabu (6/8/2025) tak menyurutkan semangat 60 santri Pondok Pesantren Modern (PPM) Darel Azhar, Lebak, Banten, mengikuti Visitasi dan Ujian Pramuka Garuda. Bertempat di kampus utama Darel Azhar, kegiatan ini dihadiri langsung oleh Ketua Pusdiklatcab Lebak, Kak Syahri, yang memimpin jalannya proses penilaian.
Momentum ini menjadi istimewa karena para santri yang diuji merupakan peserta terpilih yang akan mewakili Indonesia dalam Jambore Dunia Muslim 100 Tahun Gontor pada bulan September mendatang.
Dalam sambutannya, Kak Syahri menyampaikan keprihatinan bahwa semangat kepramukaan kini mulai memudar di sebagian kalangan. “Bahkan sebagian guru sudah enggan atau merasa malu mengenakan seragam pramuka, padahal inilah simbol riang gembira dan semangat kebangsaan yang sejati,” ujarnya.
Namun tidak demikian dengan Pondok Pesantren Darel Azhar. Di bawah kepemimpinan Dr KH Ikhwan Hadiyyin MM, yang sekaligus menjabat sebagai Mabigus 01.138, semangat pramuka tetap menyala terang.
Kiai Ikhwan Hadiyyin merupakan sosok yang tak asing di dunia kepramukaan. Sejak tahun 1972, ketika masih menjadi siswa SDN Gontor, ia sudah menjabat sebagai Ketua Regu Siaga dan berhasil membawa regunya menjadi Teladan di Lomba Tingkat III se-Kabupaten Ponorogo. Satu dekade kemudian, ia telah menjadi pelatih Kursus Mahir Dasar (KMD) — jauh sebelum ada KMD formal.
Di usia senjanya, dedikasinya tetap tak surut: tercatat sebagai peserta termuda KPD tahun 1982, dan tahun lalu menerima penghargaan Lencana PANCA WARSA III, bukti konsistensinya dalam membina generasi muda melalui gerakan pramuka.
Kini, di bawah bimbingannya, satu gugus depan saja mampu melahirkan 60 Pramuka Garuda — sebuah capaian luar biasa yang bahkan belum dicapai oleh puluhan gugus depan lain yang tersebar di wilayah Kwaran Rangkasbitung.
“Kami baru menguji 70 Pramuka Garuda se-Kwaran, dan luar biasa, 60 di antaranya berasal dari satu gudep saja, yakni Darel Azhar,” ungkap perwakilan Kwaran dengan penuh apresiasi.
Pencapaian ini bukan sekadar prestasi numerik, tetapi cerminan keberhasilan pendidikan berbasis life skill, kemandirian, dan semangat kebangsaan di lingkungan pesantren. Santri Darel Azhar dibentuk tidak hanya untuk tafaqquh fiddin, tetapi juga untuk siap membela agama, bangsa, dan negara melalui jalur kepramukaan.
Acara ditutup dengan evaluasi portofolio oleh lima pelatih dari Pusdiklatcab bersama jajaran Mabikori Darel Azhar. Hasilnya: menggembirakan dan penuh harapan.
“Kami berharap tahun depan akan lahir 100 Pramuka Garuda dari gugus depan ini,” ujar Kak Syahri optimistis.
Melalui gerakan pramuka, santri dan pesantren kembali membuktikan perannya sebagai garda terdepan pendidikan karakter, siap menyongsong Indonesia Emas 2045. []























