Beijing, Gontornews — Pemerintah Cina mengonfirmasi peningkatan kasus COVID-19 hingga dua kali lipat dari kalangan ekspatriat. Pemerintah melihat fenomena ini telah meningkatkan risiko penularan di kota-kota di Cina yang dalam 5 hari terakhir tanpa kasus COVID-19.
Sejauh ini, Komisi Kesehatan Nasional Cina, melaporkan 78 kasus baru COVID-19, Senin (23/3) dengan 74 kasus terkonfirmasi berasal dari kalangan ekspatriat. Beijing menjadi salah satu kota di Cina yang paling terpukul terhadap fenomena ini.
Ibu kota Cina tersebut melaporkan 31 kasus baru dari kalangan ekspatriat. Sementara Provinsi Guangdong melaporkan 14 kasus dan Shanghai sembilan kasus. Secara total, kasus COVID-19 dari kalangan ekspatriat di Cina mencapai 427 kasus pada Senin (23/3).
Sebagiamana dilansir Reuters, Pemerintah Cina merespon kondisi ini dengan memperketat perbatasan di Beijing dan kota-kota besar lainnya. Padahal, dalam 5 hari terakhir, kondisi pusat virus COVID-19 di Hubei justru telah melonggarkan pengetatan di wilayah perbatasan.
Sejatinya, Komite Kesehatan Wuhan akan mencabut larangan perjalanan bagi warga mulai 25 Maret 2020. Namun, akibat kondisi ini, Wuhan justru akan memperpanjang masa pembatasa hingga 8 April 2020 mendatang. Sebagaimana diketahui, Wuhan memberlakukan lockdown sejak 23 Januari 2020. Mereka menutup seluruh akses transportasi dari dan menuju Wuhan.
Hingga saat ini, otoritas kesehatan di Cina juga terus melakukan penyearingan dan karantina seta mengalihkan penerbangan internasional dari Beijing ke kota-kota lain. Namun, hal itu tidak efektif karena kebanyakan dari mereka adalah siswa yang kembali ke rumah dari negara terjangkit COVID-19.
Pemerintah Kota Beijing misalnya memperketat aturan karantina bagi individu yang datang dari luar negeri. Sebelum mereka masuk ke Beijing, otoritas kesehatan Beijing akan memberlakukan karantina dan pemeriksaan kesehatan. [Mohamad Deny Irawan]





















