Tujuan penciptaan manusia di muka bumi yaitu untuk beribadah kepada Allah SWT. Jika tujuan itu diabaikan, maka dapat dipastikan kerusakan demi kerusakan akan mudah menggerogoti kehidupan manusia, baik lahir maupun batin.
Selain, harus menjalin kedekatan kepada Sang Khalik, Islam juga mengajarkan umatnya untuk tidak lalai dalam menjalin kedekatan dengan para makhluk ciptaan-Nya. Karenanya, dalam berinteraksi sosial dengan sesama, diperintahkan kepada Muslimin agar selalu mengingat Allah SWT dan melakukan tugas serta kewajiban sebagai khalifah hanya karena Allah SWT. Sehingga setiap langkahnya mampu menjadi ladang dakwah guna meraih ridha Allah SWT semata. Namun, belakangan ini keshalihan sosial umat Islam terasa sulit ditemukan.
Betapa semua kegiatan yang seharusnya dikerjakan umat Muslim itu bisa bernilai ibadah, justru sering ternodai dengan pertikaian dan perselisihan akibat kurangnya pemahaman dan penanaman nilai-nilai agama. Padahal saat Ramadhan tiba, ritual ibadah kaum Muslimin sangat tinggi. Namun mengapa hal itu belum berdampak besar pada perilaku sebagian besar umat, tepatnya ketika Ramadhan telah usai.
Sebut saja beberapa perilaku buruk umat yang banyak disoroti saat ini, di antaranya terkait maraknya aksi kejahatan, bullying, kemeriahan umat Muslim saat merayakan Tahun Baru Masehi, perkelahian hanya karena beda klub yang dijagokan, juga penyalahgunaan media sosial sebagai ajang mengolok-olok sesama.
Orientasi ajaran Islam yaitu pembentukan dan pembinaan akhlak seluruh umat manusia. Dari sinilah, maka akhlak dapat dijadikan sebagai tolok ukur akan tingkat keimanan seorang Muslim. Terutama ketika akhlak tersebut direpresentasikan dalam hidup keseharian.
Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-khuluq, atau al-khulq, yang secara etimologis bisa berarti tabiat, budi pekerti, kebiasaan, adat. Akhlak menempati posisi yang sangat penting dalam Islam. Sehingga setiap aspek dari ajaran agama ini selalu berorientasi pada pembentukan dan pembinaan akhlak yang mulia, yang disebut akhlaqul karimah. Hal ini antara lain tercantum dalam hadis Rasulullah SAW, “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR Ahmad, Baihaki, dan Malik). Pada riwayat lain Rasulullah SAW bersabda, “Mukmin yang paling sempurna akhlaknya adalah orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Tirmizi).
“Minimnya keshalihan sosial umat dalam berperilaku sehari-hari, bisa diakibatkan karena masih kacaunya timbangan prioritas umat Muslim dalam beribadah,” terang Ustadzah Siti Majidah Lc MA, pengisi Kajian Lentera Rohani Redjobuntung FM.
Apalagi terkait penyalahgunaan media sosial, solusinya perlu ditumbuhkan tingkat literasi di masyarakat. Caranya dengan mengoptimalkan peran berbagai stakeholder, seperti pemerintah dan lembaga pendidikan. Sebagai contoh yakni dengan memasukkan materi tentang penggunaaan media yang baik ke dalam mata pelajaran agama, bekerjasama dengan para pemuka agama untuk menyiarkan konten-konten dakwah yang lebih menyejukkan, dan memperbanyak konten berisi edukasi bagi pengguna internet.
Kepada Majalah Gontor, Majidah juga menekankan perlunya gerakan untuk menyadarkan umat Muslim akan prioritas dalam berjuang atau beribadah seperti yang dicontohkan Rasulullah SAW.
Selain itu, diperlukan pula gagasan mendekatkan ruang privat agama ke dalam realitas sosial masyarakat. Salah satunya dengan membumikan nilai-nilai agama secara holistik. Terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang berdimensi sosial yaitu relasi individu dengan individu, masyarakat dengan negara atau sebaliknya.
Lemahnya tarbiyah
Sementara itu Ketua Umum HASMI (Himpunan Ahlussunnah untuk Masyarakat Islami), Ustadz Dr M Sarbini MHI, menuturkan, lemahnya keshalihan sosial umat karena lemahnya tarbiyah. Tepatnya lemahnya pendidikan aplikatif islami. Kesemarakan dakwah, misalnya, tidak berlanjut kepada tarbiyah. “Dakwah kita akhirnya berhenti hanya pada maraknya ceramah dan kajian, tidak berlanjut kepada pembentukan pemahaman dan amal dalam tubuh masyarakat,” paparnya.
Lihatlah bagaimana dahulu Rasulullah SAW menarbiyah para sahabatnya setelah didakwahkan. Mereka semua diikutsertakan dalam setiap peristiwa kehidupan. Semua itu tergambar dalam asbabun nuzul ayat-ayat al-Qur’anil Karim, seperti dalam QS al-Fath ayat 29.
“Ketika dakwah kita hanya lipstik, lisan, buku, tidak sampai ke amal dan aktivitas islami masyarakat, maka terjadilah kontrasisasi antara aksesoris islami dengan realitas islami,” jelas Ustadz Sarbini, pengisi Radio FAJRI FM.
Selain itu, lanjutnya, adanya pihak luar yang menekan dan menghambat tarbiyah umat. Baik dijalankan oleh orang-orang yang ada di dalam negeri, maupun pihak luar melalui produk-produk pemikiran, kebijakan, atau seni sosial masyarakat yang dipaksakan kepada Muslimin. Maka, solusinya menarbiyah semua komponen masyarakat Muslim di semua fase.
“Tarbiyah itu membutuhkan pemahaman yang benar dan komprehensif tentang Islam Sunni, sarana dan prasarana pendukung, para murobbi yang jujur dan serius, serta lingkungan islami yang kondusif,” terang Ustadz Sarbini.
Menurutnya, pembentukan kader-kader yang memahami kemurnian Islam yang komprehensif dan realita yang dihadapi masyarakat saat ini merupakan keniscayaan yang sangat darurat. Lalu pentingnya mengaktifasi masyarakat untuk ikut serta dalam proses tarbiyah sesuai kemampuan dan sumberdaya yang dimilikinya.
“Dalam hal ini, kejujuran, keikhlasan, kesabaran, serta ketabahan semua yang terlibat dalam tarbiyah harus terus ditanamkan,” ujar doktor lulusan Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu.
Siti Majidah, lantas menambahkan, keshalihan sosial juga bisa tumbuh dari pelaksanaan ibadah individu yang baik. Dalam beribadah mahdoh, mesti dipahami subtansi dari ibadah tersebut. Seperti shalat, misalnya, subtansinya mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jadi bukan hanya sebatas ritual menggugurkan kewajiban saja. Di sinilah peran para tokoh agama Islam untuk memahamkan hakikat dari sebuah ibadah.
“Ibadah tidak hanya dinilai dari aspek ritualitasnya saja, namun juga esensi dari setiap rangkaian ibadah tersebut,” jelas Majidah, dosen Studi Islam dan Bahasa Arab, Fakultas Agama Islam, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Nah, memasuki bulan Ramadhan, perlu adanya pemahaman ulang tentang makna Ramadhan yang merupakan manifestasi dari tindakan sosial. Ibadah puasa Ramadhan sangat berkaitan erat dengan dimensi ibadah, ekonomi, kesehatan, dan sosial. Dimensi sosial ibadah Ramadhan meningkatkan kepedulian sosial kepada kaum dhuafa, fakir miskin, dan golongan lemah lainnya.
Pada bulan Ramadhan, semua umat Islam dibina secara komprehensif untuk ditarbiyah islami. Bukan hanya sisi ruhani pribadi, tapi juga ruhani umat secara sosial. “Untuk itu, jalankan tarbiyah Ramadhan dengan penuh iman dan ikhlas,” tambah Sarbini.
Jalani puasa dan ibadah pribadi lain dengan iman dan ikhlas, seperti qiyamullail (shalat malam), qiroatul qur’an, dan lainnya. Begitu juga ibadah sosial harus dijalankan dengan iman dan ikhlas, seperti shadaqah, zakat fitrah, dan shalat berjamaah.
“Aktivitas itu harus berlanjut di bulan-bulan sesudah Ramadhan, agar momen Ramadhan yang besar ini bisa menjadi langkah awal menuju tarbiyah yang hakiki secara ummatan,” pungkasnya. []


















