Depok, Gontornews – Pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, menginginkan agar bangsa Indonesia yang saat itu dijajah Belanda bisa mengenyam pendidikan modern. Pendidikan yang akan membebaskan bangsa Indonesia, khususnya umat Islam, dari kejumudan berpikir. Kunci kemajuan pendidikan, menurut KH Ahmad Dahlan, yaitu dengan kembali kepada Alquran dan Hadis.
Demikian antara lain disampaikan oleh Mohammad Taufiq Aziz, MPdI dan Dr Zulfikar Ismail, Lc, MA dalam webinar bertajuk ”Pemikiran Pendidikan Islam KH Ahmad Dahlan” yang diselenggarakan oleh Muhammadiyah Ranting Mampang Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (6/8).
Mohammad Taufiq Aziz, dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor, mengatakan KH Ahmad Dahlan mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif untuk menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan.
Saat Muhammadiyah didirikan pada tahun 1912, penjajah Belanda menjadikan pendidikan hanya sebagai alat untuk menghilangkan semangat beragama dan berbangsa. Di sisi lain, masyarakat masih mencampurbaurkan antara prinsip beragama dengan tradisi nenek moyang yang mempercayai hal-hal bersifat klenik, khurafat, dan tahayul.
Pendidikan dalam pandangan Ahmad Dahlan, papar Taufiq, setidaknya menawarkan tiga prinsip. Pertama, pendidikan merupakan upaya strategis untuk menyelamatkan umat Islam dari pola pikir statis menjadi pola berpikir dinamis. Kedua, pendidikan hendaknya ditempatkan pada skala prioritas utama dalam proses pembangunan umat. Ketiga, kunci untuk kemajuan pendidikan ialah dengan kembali kepada Alquran dan Hadis. “KH Ahmad Dahlan mengarahkan umat pada pemahaman ajaran Islam secara komprehensif, dan menguasai berbagai disiplin ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Bagi KH Ahmad Dahlan, pendidikan bertujuan menciptakan manusia yang baik budi (alim dalam agama), berpandangan luas (alim dalam ilmu-ilmu umum), dan bersedia berjuang untuk kemajuan masyarakat. “KH Ahmad Dahlan menjadikan Islam sebagai ruh dalam pendidikan. Ini berbeda dengan tokoh lain di zamannya,” terang Taufiq.
Menurut peneliti pemikiran dan pendidikan Islam itu, sistem persekolahan model Ahmad Dahlan cenderung meniru sistem persekolahan model Belanda. Dalam mengajar, misalnya, Kiai Ahmad Dahlan menggunakan kapur, papan tulis, meja, kursi dan peralatan lain sebagimana lazimnya sekolah Belanda saat itu. Sebab, memajukan pendidikan diperlukan cara-cara sebagaimana ditempuh dalam sistem sekolah yang maju pada saat itu (sekolah Belanda/sekolah Katolik).
Sementara itu, Zulfikar Ismail, ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) INAIS Bogor, menambahkan bahwa konsep pendidikan Kiai Ahmad Dahlan menggabungkan pelajaran umum dan pelajaran agama. “Pendidikan umum saat itu hanya ada di sekolah-sekolah Belanda, Ahmad Dahlan kemudian memasukkan ajaran Islam ke sekolah Muhammadiyah,” papar doktor lulusan Universitas Ez Zitouna, Tunisia, itu.
Menurutnya, kehadiran pendidikan Islam di sejumlah negara Timur Tengah seperti Universitas Ez Zitouna, Tunisia (berdiri tahun 737 Masehi), Universitas Al Qarawiyyin, Maroko (859 M), dan Universitas Al Azhar, Mesir (970 M) sangat menginspirasi Ahmad Dahlan. “Ahmad Dahlan tetap mendirikan sekolah meskipun negara saat itu tidak mendukung,” ujarnya.
Konsep pendidikan Ahmad Dahlan, ujar Zulfikar, sangat cocok diterapkan karena kreatif dan inovatif, tanpa menghilangkan gaya klasik. Pendidikan klasik menerapkan metode pembelajaran yang mempertemukan guru/ustadz dengan muridnya secara face to face (suhbatul ustadz) atau talaqqi seperti yang dilakukan di pondok pesantren.
“Ahmad Dahlan tidak meninggalkan metode klasik ini sebagaimana di negara-negara Timur Tengah, meskipun ada kampus tapi juga ada talaqqi. Karena di situ ada keberkahan, baik bagi guru maupun muridnya,” ujar pria kelahiran Alue le Puteh, Aceh, 1 Januari 1987, itu.
Selain itu, lanjut Zulfikar, ide pendidikan Ahmad Dahlan banyak terinspirasi dari kitab-kitab karangan Ibn Taimiyah, Ibn Qayyim, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha, ulama-ulama Timur Tengah. Hal ini tidak mengherankan karena Ahmad Dahlan pernah dua kali menetap di Mekkah. Pertama tahun 1890, menetap selama 1 tahun. Kedua tahun 1903, menetap lagi selama 2 tahun. Saat itulah Ahmad Dahlan belajar kepada Syekh Khatib Minankabawi dan Syekh Nawani Al Bantani di Mekkah.
Kini lembaga pendidikan Muhammadiyah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. []




















