Dhaka, Gontornews — Sebuah penelitian yang diinisiasi PBB menemukan pernikahan dini di kamp pengungsian Rohingya di Bangladesh meningkat drastis. PBB menduga temuan peningkatan pernikahan dini terkait dengan masifnya perdagangan manusia yang terjadi pada pengungsi Rohingya di masa pandemi.
Bangladesh mengurangi sejumlah kegiatan di kamp pengungsian sepanjang April akibat pandemi Covid-19. Mereka lebih berfokus pada penyediaan makanan serta peningkatan akses kesehatan guna mencegah penularan Covid-19. Pada saat yang bersamaan, jumlah pekerja dari kalangan pengungsi Rohingya juga menurun drastis.
“Sebelum Covid-19, jejak kemanusiaan dan tersedianya ruang yang bersahabat tersedia. Anak-anak dapat berbicara dengan fasilitator serta berbagi kisah dengan rekannya. Namun, jalan tersebut kini tidak tersedia,” ungkap Koordinator Perlindungan Anak PBB, Krisen Hayes, sebagaimana dilansir Reuters.
“Perkawinan dini meningkat karena tidak adanya upaya pencegahan. Tindakan pembatasan juga dilakukan guna mencegah upaya perdagangan (manusia),” imbuh Hayes.
PBB melansir setengah dari total lebih dari 700.000 pengungsi Rohingya yang tiba di Bangladesh merupakan anak-anak. Sementara itu, lebih dari 350 kasus perdaganan manusia yang melibatkan pengungsi Rohingya, 15 Persennya adalah anak-anak.
Bulan ini, PBB melansir pelaku perdagangan manusia menahan sekitar 300 orang Rohingya dalam sebuah kapal selama 6 bulan sebelum akhirnya bersandar di pelabuhan Lhokseumawe, Aceh.
Pada Mei, sukarelawan di kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh mengkhwatirkan penyebaran Covid-19 di sekitar kamp pengungsian. Beruntung, angka kematian akibat Covid-19 di kamp pengungsian, 189 kasus penularan dan tujuh kematian, tidak masuk kategori mengkhawatirkan.
“Orang tidak dapat berharap mendapatkan kinerja normal selama pandemi,” ungkap Komisaris dan Bantuan Pemulangan Pengungsi Rohingya, Mahbub Alam Talukder.
“Temuan ini membantu kami dalam mengendalikan virus serta menghentikan laju angka kematian. Sekarang, kami terus melanjutkan aktifitas secara normal dengan tetap mematuhi protokol kesehatan,” tambahnya.
Selain isu perdagangan manusia, penelitian tersebut juga membahas seputar hukuman fisik terhadap anak serta kekerasan dalam rumah tangga.
“Untuk saat ini, kami mencoba untuk mengatasi maslaah ini melalui konseling satu per satu warga melalui relawan kami,” kata juru bicara BRAC, Hasina Akhter.
BRAC merupakan LSM Bangladesh di kamp pengungsian Rohingya. [Mohamad Deny Irawan]






















