Jakarta, Gontornews — Majelis Virtual Majalah Gontor (MVMG) sesi ketiga, Selasa (29/9), membedah buku “Banjir Darah: Kisah Nyata Aksi PKI terhadap Kiai, Santri dan Kaum Muslimin,” karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon. Penyelenggaraan acara ini guna mewaspadai bahaya laten komunisme yang terjadi di masyarakat.
Bertindak sebagai narasumber diskusi webinar MVMG sesi ketiga ini, penulis buku Banjir Darah, Thowaf Zuharon, Pelaku Sejarah, Mayjend (Purn) Budi Sudjana dan sejarawan, Ahmad Mansur Suryanegara. Tidak ketinggalan, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (Gontor), KH Hasan Abdullah Sahal yang bertindak sebagai keynote speaker serta redaktur Majalah Gontor, Lukman Hakim Arifin, sebagai Host.
Dalam ulasannya, Thowaf Zuharon berkisah tentang bagaimana perlawanan pesantren terhadap pemberontakan PKI. Termasuk bagaimana Gontor mengalami langsung kekejaman PKI yang saat itu berkembang mulai dari Madiun dan sekitarnya.
“Saya tidak bisa membayangkan kalau waktu itu, kalau sampai pasukan Muso menghancurkan Gontor. Mungkin, Gontor tidak melahirkan sejumlah tokoh-tokoh nasional,” ucapnya.
Mendengar pemaparan penulis, Pimpinan PMDG, Kiai Hasan terperangah. Menurutnya, penyampaian sejarah kelam komunisme harus terus disampaikan kepada generasi muda. Bagi Kiai Hasan, sejarah akan terus berulang.
“Jujur saja, saya terperangah dengan dari pembahasan hari ini,” kata Kiai Hasan memulai diskusi.
“Menurut saya, yang penting bukan isinya. Karena isinya bisa ditambah, bisa diramaikan, bisa diperluas dan bisa diperkuat lagi dengan sejarah-sejarah yang lain. Sejarah ini akan tetap berulang,” imbuhnya dalam dialog yang berlangsung cair tersebut.
Sebelumnya, sejarawan, Ahmad Mansur Suryanegara, mengatakan sepanjang sejarah, kudeta PKI tidak pernah berlangsung lama. Mansur pun meminta masyarakat untuk tidak mengkhawatirkan dan takut dengan PKI.
“Gusdur pernah menyampaikan kepada saya untuk tidak mengkhawatirkan kebangkitan PKI karena NU punya Banser dan Anshor,” ungkap penulis buku Api Sejarah 1 dan 2 itu.
Namun, Kiai Hasan menyanggah pernyataan Mansur mengenai durasi kudeta PKI. Menurutnya, bukan seberapa lama durasi kudeta oleh PKI tetapi seberapa rusak pemikiran yang berkembang sebelum kudeta berlangsung.
“Kudeta-kudeta yang tidak lama itu, menimbulkan pemikiran-pemikiran yang semakin rusak dan merusak. Jadi, adanya kudeta itu merusak. Penyakit-penyakit sebelum ada kudeta sudah ditanamkan sedemikian rupa,” tegasnya.
Diskusi webinar MVMG tersebut melibatkan 853 peserta yang mendaftar. Mayoritas peserta dapat menyaksikan dialog melalui aplikasi Zoom Meeting dan Youtube Live. [Mohamad Deny Irawan]





















