Nice, Gontornews — Presiden Prancis Emmanuel Macron berjanji, negaranya akan berdiri teguh melawan ekstremis agama setelah seorang pria bersenjatakan pisau membunuh tiga orang di sebuah gereja di Kota Nice.
Prancis tidak akan “menyerah pada nilai-nilai kami,” kata Macron di Nice, setelah seorang migran Tunisia mengamuk hampir setengah jam dengan pisau berukuran 30 sentimeter (12 inci), menargetkan orang-orang yang berdoa di basilica Notre-Dame.
Seorang wanita berusia 60 tahun meninggal di dalam gereja dan tubuh seorang pria, seorang pegawai gereja berusia 55 tahun, ditemukan di dekatnya, tenggorokannya juga digorok.
Wanita lain, seorang Brasil berusia 44 tahun yang melarikan diri dari gereja ke restoran terdekat, meninggal tak lama kemudian karena luka-lukanya.
“Beri tahu anak-anak saya bahwa saya mencintai mereka,” ujarnya sebelum ajal menjemputnya, menurut saluran kabel Prancis BFM TV.
Sang penyerang, yang terluka oleh tembakan polisi, diidentifikasi sebagai Brahim Aouissaoui yang berusia 21 tahun, yang tiba di Italia bulan lalu, kemudian melakukan perjalanan ke Prancis, kata sumber-sumber pengadilan seperti dikutip Hurriyetdailynews.com.
Pembunuhan di gereja terjadi setelah pemenggalan kepala guru sejarah, Samuel Paty, pada 16 Oktober di pinggiran kota Paris oleh seorang ekstremis setelah Paty menunjukkan kartun Nabi Muhammad SAW kepada murid-muridnya di kelas.
Pembelaan Macron terhadap Paty yang mengejek agama Islam, memicu kemarahan umat Islam di seluruh luas dunia Islam terhadap Prancis. Di negara-negara mayoritas Muslim muncul seruan untuk memboikot produk-produk Prancis.
Daniel Conilh, seorang pelayan berusia 32 tahun di Nice’s Grand Cafe de Lyon, satu blok dari gereja, mengatakan peristiwa itu terjadi sesaat sebelum pukul 09:00 ketika “tembakan dilepaskan dan semua orang lari”.
“Seorang wanita datang langsung dari gereja dan berkata, ‘Lari, lari, seseorang telah menikam’,” katanya kepada AFP.
Jaksa anti-teror Prancis sedang menangani penyelidikan atas tuduhan terkait dengan “pembunuhan oleh teroris”.
Polisi yang menembak Aouissaoui “tanpa ragu mencegah jumlah korban yang lebih banyak,” kata kepala jaksa penuntut Jean-Francois Ricard.
Ia menambahkan, penyelidik telah menemukan dua pisau yang tidak terpakai di dalam tas di tempat kejadian.
Prancis berada dalam siaga tinggi sejak pembantaian di majalah mingguan satir Charlie Hebdo, Januari 2015.
Ketegangan meningkat sejak bulan lalu, ketika persidangan dibuka untuk 14 tersangka kaki tangan dalam serangan itu. []





















