Moskow, Gontornews — Presiden Rusia Vladimir Putin pada hari Senin (11/1) mempertemukan para pemimpin Armenia dan Azerbaijan untuk pertama kalinya sejak perang tahun lalu di wilayah Nagorno-Karabakh. Ini upaya untuk menyelesaikan masalah yang berisiko merusak kesepakatan yang mengakhiri konflik.
Perjanjian gencatan senjata yang ditengahi Rusia pada November lalu menghentikan konflik enam pekan antara Azeri dan pasukan etnis Armenia di daerah kantong pegunungan dan sekitarnya, memastikan keuntungan teritorial bagi Azerbaijan.
Namun ketegangan tetap ada. Misalnya, masih ada pertempuran sporadis, tawanan perang terus ditahan oleh kedua belah pihak, dan ketidaksepakatan mengenai koridor transportasi di wilayah itu.
Daerah kantong itu, secara internasional, diakui sebagai bagian dari Azerbaijan, tetapi etnis Armenia menganggapnya sebagai bagian dari tanah air mereka yang bersejarah. Pada tahun 1990-an Azerbaijan dan Armenia berperang yang menyebabkan puluhan ribu orang tewas.
Dalam pidato pembukaan di Kremlin, Putin mengatakan kesepakatan gencatan senjata November, yang membuat Moskow mengerahkan penjaga perdamaian ke wilayah tersebut, sedang dilaksanakan.
Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan dan Presiden Azeri Ilham Aliyev tidak berjabat tangan dalam pertemuan itu. Keduanya hanya bertukar salam singkat saat mereka duduk di meja oval di seberang Putin.
Kesepakatan gencatan senjata tersebut memicu protes terhadap Pashinyan di Yerevan. Masyarakat Armenia menuduhnya ceroboh dalam perang dan memintanya untuk mundur dari jabatannya. Namun dia menolak mundur.
Sementara itu Aliyev telah menganggap kemenangan perang di Nagorno-Karabakh sebagai pembenaran sejarah yang salah, sesuatu yang ditolak Armenia. Aliyev mengadakan parade kemenangan bulan lalu bersama Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.
Bagi Rusia, konflik tersebut menyoroti meningkatnya pengaruh Turki, sekutu Azeri, di Kaukasus Selatan, bagian dari bekas Uni Soviet yang secara tradisional dianggap Moskow sebagai wilayah pengaruhnya sendiri.
Tetapi dengan memperantarai kesepakatan dan menghadirkan pasukan penjaga perdamaian Rusia di lapangan, Putin telah menggagalkan kehadiran Turki yang lebih kuat untuk saat ini, sambil memperluas jejak militer Moskow sendiri.
Dmitry Trenin, seorang analis politik dari Moscow Carnegie Center, mengatakan Kremlin berharap pembicaraan hari Senin itu akan memungkinkannya untuk menegaskan kembali pengaruhnya di wilayah tersebut.
βFungsi penjaga perdamaian menjadi keuntungan Moskow dalam hubungan kompetitifnya dengan Ankara,β tulis Trenin di Twitter. []





















