Yerusalem, Gontornews — Otoritas Israel pada hari Ahad (17/1) mengajukan rencana untuk membangun 780 rumah tambahan di Tepi Barat, kata kelompok pemantau anti-permukiman Peace Now.
Laman dw.com melansir, persetujuan tersebut secara luas dinilai sebagai ‘memanfaatkan kesempatan’ sebelum Presiden AS Donald Trump lengser. Selama ini Trump memutuskan diplomasi AS secara sepihak dengan menyatakan bahwa penyelesaian tersebut tidak melanggar hukum internasional.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pembangunan yang direncanakan awal pekan ini. Pada hari Ahad, komite pemerintah memberikan ratifikasi akhir untuk 365 rumah dan persetujuan awal untuk 415 rumah lainnya.
Peace Now mengatakan, lebih dari 90 persen rumah terletak jauh di dalam Tepi Barat, yang direncanakan Palestina sebagai ibukota negara merdeka di masa depan.
Lebih dari 200 rumah terletak di pos terdepan yang telah diputuskan untuk disahkan oleh pemerintah.
Israel telah meningkatkan pembangunan permukiman selama masa jabatan Trump, dengan persetujuan atau rencana dibuat untuk lebih dari 12.000 rumah pada tahun 2020.
Semua permukiman Yahudi di Tepi Barat dianggap ilegal oleh sebagian besar komunitas internasional, dan menjadi penghalang bagi solusi dua negara untuk konflik Israel-Palestina.
Presiden terpilih AS, Joe Biden, diperkirakan akan mengembalikan sikap Amerika Serikat ke posisi tradisional menentang permukiman.
Peace Now menyebutkan, dalam masa empat tahun berkuasa, Trump telah ikut menyetujui rencana pembangunan lebih dari 27.000 rumah Yahudi di Tepi Barat. Jumlah ini lebih dari 2,5 kali jumlah yang disetujui selama masa jabatan dua kali Obama sebagai presiden AS
Setelah bertahun-tahun perluasan pemukiman, saat ini ada sekitar 450.000 orang Yahudi yang tinggal di Tepi Barat, di tengah-tengah sekitar 2,8 juta orang Palestina. []




















