Jenewa, Gontornews — Badan Kesehatan Dunia, WHO, mengapresiasi proposal Uni Eropa untuk merundingkan perjanjian global seputar kesiapsiagaan dalam menghadapi pandemi pada masa depan. WHO mengatakan perjanjian global semacam ini, secara politik, dapat menjamin komitmen negara-negara dalam memerangi wabah penyakit pada masa mendatang.
Sebelum Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengapresiasi serta menyetujui proposal tersebut, sejumlah anggota dewan eksekutif mengecam proposal itu. Sebuah laporan oleh panel independen menyalahkan Cina karena lambat dalam menerapkan langkah-langkah kesehatan masyarakat. Pada lain sisi, WHO juga bersalah karena terlalu lambat menetapkan status darurat pandemi Covid-19.
Pemimpin KTT para pemimpin Uni Eropa, Charles Michel, mengusulkan negara-negara untuk membuat pernjanjian global. Perjanjian tersebut, sambung Michel, diharapkan dapat memperjelas kewajiban tiap negara dalam menangani pandemi.
“Kami semua telah melihat betapa pandemi ini belum pernah terjadi sebelumnya sementara kami harus memberikan yang terbaik,” kata Tedros kepada Reuters.
“Menurut saya perjanjian merupakan hal terbaik yang dapat kami lakukan untuk memastikan komitmen politik negara anggota,” imbuh Tedros.
Tedros berujar bahwa perjanjian global tersebut akan menjadi perjanjian kesehatan masyarakat global pertama sejak pakta pengendalian tembakau pada tahun 2003. Para diplomat mengatakan bahwa dewan tidak memeriksa proposal tersebut dan tidak menjelaskan apakah proposal itu memiliki daya tarik atau tidak. [Mohamad Deny Irawan]


















