Kairo, Gontornews — Sebuah kapal yang membawa migran menuju Eropa terbalik di Laut Mediterania di lepas pantai Libya, menenggelamkan setidaknya 43 orang, kata badan migrasi PBB, Rabu (20/1), dikutip Arabnews.com.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengatakan, peristiwa tragis yang terjadi sehari sebelumnya itu merupakan bencana laut pertama pada tahun 2021 yang melibatkan para migran pencari kehidupan lebih baik di Eropa.
Dalam beberapa tahun terakhir, Uni Eropa telah bermitra dengan penjaga pantai Libya dan kelompok lokal lainnya untuk membendung penyeberangan laut yang berbahaya tersebut. Namun, kelompok hak asasi mengatakan, kebijakan itu membuat para migran bergantung pada kelompok bersenjata atau tersandera di pusat penahanan jorok yang penuh dengan pelanggaran.
IOM mengatakan pasukan keamanan pantai di kota bagian barat Libya, Zuwara, menyelamatkan 10 migran dari bangkai kapal Selasa (19/1) dan membawa mereka ke pantai. Organisasi itu menyebutkan, korban tewas semuanya pria dari negara-negara Afrika Barat.
Kapal itu meninggalkan kota Zawiya Selasa pagi dan terbalik beberapa jam kemudian setelah mesinnya mati di tengah laut yang ganas.
Pada tahun-tahun sejak pemberontakan 2011 yang menggulingkan dan menewaskan Moammar Gadhafi, Libya yang dilanda perang telah menjadi titik transit dominan bagi para migran yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan di Afrika dan Timur Tengah.
Penyelundup sering membujuk keluarga-keluarga yang putus asa untuk menyeberang ke Eropa menggunakan perahu karet yang tidak memiliki peralatan lengkap melalui rute berbahaya Mediterania Tengah.
Penjaga pantai Libya pada Rabu mencegat setidaknya 48 migran, termasuk 11 anak-anak, dan mengembalikan mereka ke pantai, kata IOM.
IOM menyerukan perlunya perubahan kebijakan terhadap situasi di Mediterania, termasuk diakhirinya pemulangan migran ke “pelabuhan yang tidak aman.”
“Penangkapan dan penahanan sewenang-wenang dalam kondisi paling buruk terus berlanjut (di Libya). Mereka banyak yang menjadi korban dan dieksploitasi oleh pedagang dan penyelundup. Mereka ditahan untuk memperoleh tebusan, disiksa, dan dianiaya,” kata IOM dalam sebuah pernyataan Rabu.
IOM mengatakan pada November, sekitar 500 migran telah tewas saat mencoba menyeberangi Mediterania tengah. Tapi jumlah sebenarnya bisa lebih banyak lagi karena keterbatasan untuk memantau rute itu. []























