Bangkok, Gontornews — Asosiasi pariwisata Phuket, Rabu (3/2/2021), berencana untuk menerapkan program vaksinasi bagi 250.000 penduduk secara pribadi. Mereka berharap pemerintah mengizinkan kembali pembukaan destinasi pariwisata Pulau Phuket bagi wisatawan asing mulai Oktober 2021 mendatang.
“Penduduk Phuket kehilangan harapan,” kata Presiden Asosiasi Pariwisata Phuket, Bhummikitti Ruktaengam kepada Reuters.
Bhummikitti menjelaskan, sepanjang 2019, sebanyak 10 juta dari 40 juta wisatawan asing ke Thailand berkunjung ke Phuket. Namun, pandemi menghancurkan industri pariwisata Phuket ke titik paling nadir dalam sejarah.
Jumlah wisatawan asing ke Phuket pada tahun 2020 hanya 2,1 juta pengunjung. Pendapatan pariwisata dari Phuket pun turun 78 persen menjadi 87,5 juta Baht atau setara 2,92 juta dolar Amerika Serikat.
Walhasil, 10 asosiasi industri pariwisata Phuket mulai dari hotel, pariwisata dan kamar dagang bersepakat untuk melakukan vaksin secara mandiri. Mereka menargetkan 70 persen populasi Pulau Phuket mengikuti program vaksinasi guna menyambut penerimaan wisatawan mulai 1 Oktober 2021 mendatang.
“Kami sedang berbicara dengan tiga jaringan rumah sakit besar untuk mendapatkan vaksin AstraZeneca dan Sinovac,” kata Bhummikitti.
Bhummikitti juga berpendapat bahwa turis asing yang telah melakukan vaksinasi tidak perlu menjalani karantina. “Mereka mempunyai kekebalan. Kita juga punya kekebalan,” katanya.
“Kami berbicara satu sama lain melalui masker. Logiknya berhasil,” sambungnya.
Kepala Strategi Hotel Minor International Pcl, Chaiyapat Paitoon, meminta pemerintah melonggarkan karantina bagi pelancong asing yang telah melakukan vaksinasi. Gubernur Otoritas Pariwisata Thailand, Yuthasak Supasorn sependapat dengan usulan tersebut. Sementara penggunaan ‘paspor vaksin’ sedang dibahas oleh satuan tugas virus korona Thailand.
Sejauh ini, Thailand mengonfirmasi 21.249 kasus infeksi Covid-19 dengan 79 kematian. mereka juga menggunakan 61 juta dosis vaksin AstraZeneca buatan lokal untuk melakukan vaksinasi. Sementara penggunaan vaksin impor akan berjalan dengan jumlah terbatas pada tahap awal. [Mohamad Deny Irawan]





















