Pelukan merupakan salah satu bahasa kasih antara orangtua dan anak. Sebagaimana pendapat Gary Chapman yang mengatakan bahwa sentuhan fisik adalah salah satu cara paling keras dalam menyuarakan cinta karena sentuhan fisik kerap meneriakkan, “Saya mencintaimu!”
Sayangnya, sentuhan fisik kerap terbatas digunakan sebagian besar orangtua karena keterbatasan pengetahuan mereka. Padahal besar sekali manfaatnya.
Pelukan orangtua dapat menciptakan ikatan batin yang kuat serta energi positif yang besar bagi perkembangan psikologis anak. Alasannya karena mendapatkan pelukan berarti mendapatkan dukungan, kehangatan, dan kepercayaan diri.
Hal ini juga berlaku bagi orang yang memeluknya. Rasa percaya diri akan muncul ketika seseorang memeluk orang yang ia percayai dan sayangi.
Tidak dapat dipungkiri, baik si anak maupun orangtua, kedua-duanya pasti saling membutuhkan cinta dan perlu bukti tanda cinta satu sama lain. Apabila hal penting tersebut tidak didapatkan di dalam keluarga, maka tidak akan ada ruh di dalamnya.
Perlu diketahui bahwa saat berpelukan, hormon endomorfin hadir dan dapat mengurangi ketegangan syaraf serta tekanan darah dalam tubuh manusia. Bahkan, Universitas Italia dalam penelitiannya berhasil menunjukkan bahwa anak yang sering mendapatkan pelukan akan cenderung lebih percaya diri dalam menyelesaikan masalah dan lebih cepat sembuh jika terkena depresi.
Pengaruh besar lainnya yaitu pelukan sang ibu saat inisiasi dini atau sesaat setelah bayi terlahir ke dunia, terbukti dapat mentransfer sejenis mikro organisme yang bisa memperkuat daya tahan tubuh sang bayi.
Dan sebagaimana hasil penelitian sebuah Journal of Epidemology and Community Health, jika pelukan penuh cinta dan kasih sayang ini diteruskan hingga sang anak tumbuh besar, maka akan tumbuhlah pribadi yang baik, tenang, serta tidak mudah stres. [Edithya Miranti/Rus]




















