Tepat di Perbukitan Muqattam, Mesir, berdiri sebuah benteng kokoh Salahudin al-Ayyubi. The Citadel of Saladin, sebagaimana orang Barat menyebutnya, menurut catatan sejarah dibangun pada tahun 1170 M.
Ia berada di atas Bukit Muqattam, antara Kota Kairo dan Fustat, Mesir. Karena terletak di atas bukit, benteng ini mampu menghadirkan keindahan pemandangan seluruh penjuru Kota Kairo.
Pada abad ke-14 M, benteng bersejarah ini sempat dilupakan dan tidak diurus. Hingga pada masa kekuasaan Dinasti Mamluk, benteng mulai kembali diperhatikan dan dirawat.
Di dalam benteng terdapat sebuah bangunan Masjid Muhammad Ali yang berada di tempat tertinggi kawasan benteng. Masjid itu didirikan antara tahun 1828-1848. Karena kemegahan dan kebesaran masjid pertama bergaya benteng Ottoman ini, maka sebagian orang sering menjadikan nama masjid sebagai nama benteng dengan sebutan Benteng Muhammad Ali Pasha.
Sekitar tahun 1860-an, Benteng Salahudin tidak difungsikan sebagai pusat pemerintahan oleh Khedive Ismail. Sedangkan saat Perang Salib, tepatnya pada masa kekuasaan Khalifah Turki Utsmani, Citadel sempat dijadikan pemukiman dan tempat berlindung raja muda Turki beserta pasukannya.
Dahulu, sekitar abad ke-11 dan selama 700 tahun kemudian, Salahudin beserta para penerusnya terus membangun dan merenovasi benteng kebanggaan mereka ini. Apalagi saat pasukan Prancis datang dan menghancurkan beberapa bagian dari benteng.
Al-Kamil, keponakan Salahudin juga pernah memperkuat dan memperbesar benteng dan beberapa menaranya. Ia turut membangun Menara Blacksmith (Burg al-Hadad) dan Menara Pasir (Burg ar-Ramlah) tiga kali lebih besar, yang dikontrol lewat jalur sempit di antara benteng dan Perbukitan Muqattam.
Beberapa keunggulan arsitektur benteng Salahudin adalah bentuk menara benteng yang sengaja dibangun bulat menonjol dari dinding setinggi 10 meter dan tebal 3 meter. Tujuannya agar dapat menjaga dan mengapit dari lontaran api para musuh.
Selain itu, terdapat juga Bi’r Yusuf atau Sumur Yusuf sebagai tempat persediaan air di benteng. Sayangnya, sekarang sumur ini sudah tertutup bagi para wisatawan. [Edithya Miranti/Rus].




















