Belakangan ini pendayagunaan dana zakat, infaq, shadaqah dan wakaf untuk melapangkan beban masyarakat dhuafa semakin bermunculan. Salah satunya adalah Dompet Dhuafa, yang dengan klaster Zona Madinanya sukses memberdayakan masyarakat Jampang dan sekitarnya melalui pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Seiring waktu berjalan Zona Madina pun menjadi kawasan yang mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Lain dulu, lain sekarang. Sesuatu yang berbeda telah terjadi di Jl Raya Parung Km 42 Desa Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Jika berkunjung ke Zona Madina, Anda akan menjumpai bangunan Rumah Sehat Terpadu sebagai rumah sakit bebas biaya bagi orang miskin, Bumi Pengembangan Insani yang di dalamnya termasuk Smart Ekselensia Indonesia, Sekolah Guru Indonesia, Makmal Pendidikan, perpustakaan, dan sarana olahraga.
Tak hanya itu, Zona Madina juga memiliki Kampung Wisata Djampang, Kampung Ternak Nusantara, Kampung Silat Jampang, Kampung Inggris Jampang (Jampang English Village), dan Masjid Al Madinah.
Direktur Zona Madina Dompet Dhuafa Herman Budianto menjelaskan, perkembangan Zona Madina itu tidak lepas dari peran Dompet Dhuafa yang telah memberdayakan masyarakat Jampang dan sekitarnya.
Dompet Dhuafa adalah lembaga nirlaba milik masyarakat Indonesia yang berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa dengan dana ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf), serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga. Selama 20 tahun lebih, Dompet Dhuafa telah memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan umat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR.
Herman mengatakan, kawasan aktivitas pemberdayaan komunitas dengan lahan seluas 6 hektar itu didesain dengan konsep kawasan tumbuh dan terpadu dengan landasan tata nilai Islam yang rahmatan lil alamin.
“Untuk membangun sosioekonomi, budaya dan pengembangan nilai religi masyarakat. Zona Madina memberdayakan masyarakat dengan program ekonomi, pendidikan, dan kesehatan,” katanya.
Selain itu, Zona Madina menjadikan masjid sebagai penjaga harmonisasi seluruh program kemasyarakatan. Dengan Masjid Al Madinah sebagai pusat pergerakan ekonomi syariah, pusat pelayanan kesehatan gratis atau murah, pusat diklat dan keterampilan untuk hidup seperti bahasa asing, komputer dan kewirausahaan, pusat pengembangan budaya dan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasi keimanan dan ketakwaan.
Hakam, salah satu staf Marketing dan Komunikasi Zona Madina, menjelaskan Zona Madina
memberdayakan masyarakat melalui pengembangan ekonomi kreatif, kewirausahaan, usaha pertanian, perikanan dan peternakan dalam bentuk pemberdayaan kelompok.
“Ya, per kelompok. Bukan pribadi. Itu bisa kita yang buatkan kelompoknya atau jika mereka sudah berkelompok juga bisa. Ada kelompok budidaya ikan hias, ikan konsumsi seperti bawal, lele, patin. Ternak kambing, tahu iwul. Itu juga kami bina,” tuturnya kepada Gontornews.com.
Hakam menjelaskan, dengan pemberdayaan kelompok jika pasar butuh banyak, mereka bisa menyelesaikan kebutuhan pasar itu dari kelompoknya.
“Dompet Dhuafa juga mengembangkan bukan satu dua orang, tapi kelompok, dan ada tanggung renteng. Agar kalau ada satu yang gagal maka akan disupport oleh yang lain,” paparnya.
Selain itu dengan kelompok dapat memudahkan pembinaan, karena basis Zona Madina adalah klaster. Di Dompet Dhuafa, Zona Madina itu klaster terbesar. “Pembinaan bentuk klaster di Jakarta tidak ada, hanya di Bogor, Sembalung NTB, dan Jogja,”imbuhnya.
Berdasarkan data per 15 Desember 2016 jumlah total penerima manfaat Zona Madina sebanyak 684.218, baik orang maupun layanan. Dari program kesehatan berupa Rumah Sehat Terpadu (RST) telah menerima kunjungan atau layanan hingga 268.136 dalam jangka tahun 2012-2016.
Dari sektor program pendidikan berupa Beastudi Indonesia jumlah penerima manfaat sebanyak 12.920 orang selama 2003-2016. Makmal pendidikan dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 109.994 orang pada 2004-2016, Smart Ekselensia dengan siswa-siswa berbakatnya mempunyai jumlah penerima manfaat hingga 2.966 orang pada (2004-2016.
Sementara itu Sekolah Guru Indonesia (SGI) mempunyai jumlah penerima manfaat sebanyak 125.675 orang pada 2009-2016.
Sedangkan Komunitas Filantropi Pendidikan (KFP) dan Alumni dengan jumlah penerima manfaat sebanyak 16.349 orang pada 2014-2016. Sehingga subtotal penerima manfaat dari sektor program pendidikan berjumlah 267.904 orang.
Adapun sektor ekonomi yang dikelola oleh Zona Madina total jumlah penerima manfaat sebanyak 148.178 orang. Dengan rincian, penerima manfaat program Pertanian Sehat Indonesia (PSI) berjumlah 28.852 orang pada 1996-2004, untuk UMK & Nelayan dengan Karya Masyarakat Mandiri (KMM) jumlah penerima manfaat sebanyak 79.920 orang pada 1996-2004.
Sedangkan penerima manfaat program Kampoeng Ternak Nusantara (KTN) berjumlah 26.490 orang pada 1996-2004, Jampang English Village (JEV), Silat, dan Ekonomi memiliki jumlah penerima manfaat sebanyak 12.916 orang pada 2014-2015, sehingga subtotal penerima manfaat dari sektor ekonomi berjumlah 148.178 orang. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Rus]
























