N’Djamena, Gontornews — Presiden Chad Idriss Deby meninggal dunia saat mengunjungi pasukan di garis depan pertempuran melawan pemberontak di bagian utara Negara itu, kata seorang juru bicara militer pada hari Selasa (20/4), sehari setelah Deby dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden.
Arabnews.com merilis, Deby (68) menjadi penguasa setelah pemberontakan pada tahun 1990 dan merupakan salah satu pemimpin terlama di Afrika.
Dalam kampanyenya pada hari Senin ia mengatakan bergabung dengan pasukan Β untuk memerangi ekstremis setelah pemberontak yang berbasis di perbatasan utara dekat Libya maju ratusan km ke selatan menuju ibukota NβDjamena.
Penyebab kematiannya belum diketahui.
Seorang jenderal bintang empat yang merupakan putra presiden Chad yang terbunuh, Idriss Deby Itno akan menggantikannya sebagai kepala dewan militer, kata militer pada hari Selasa (20/4).
“Sebuah dewan militer telah dibentuk yang dipimpin oleh putranya, Jenderal Mahamat Idriss Deby Itno,” kata juru bicara militer, Jenderal Azem Bermandoa Agouna, di radio pemerintah.
Agouna mengumumkan kematiannya dalam siaran di televisi pemerintah, dikelilingi oleh sekelompok perwira militer yang ia sebut sebagai Dewan Transisi Nasional.
“Seruan untuk berdialog dan perdamaian diluncurkan kepada semua warga Chad di dalam dan luar negeri untuk terus membangun Chad bersama,” katanya.
Dewan Transisi Nasional meyakinkan rakyat Chad bahwa semua tindakan telah diambil untuk menjamin perdamaian, keamanan, dan ketertiban republik.
Negara-negara Barat menilai Deby sebagai sekutu dalam perang melawan kelompok-kelompok ekstremis, termasuk Boko Haram di Danau Chad Basin dan kelompok-kelompok yang terkait dengan Al-Qaeda dan Daesh di Sahel.
Deby juga menghadapi meningkatnya ketidakpuasan masyarakat atas pengelolaan kekayaan minyak Chad dan tindakan keras terhadap lawan-lawannya.
Kemenangan pemilihannya telah memberinya masa jabatan keenam, tetapi pemungutan suara 11 April diboikot oleh para pemimpin oposisi. []


















