“Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai” artinya Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.
Demikian petuah Bugis mengatakan, bahwa untuk mengetahui seberapa luas dan dalam sebuah sungai maka harus terlebih dahulu menyeberanginya. Begitu juga anak, untuk bisa mengenal anak lebih dalam harus bisa mengetahui seperti apa dan apa saja yang menjadi keinginan serta kebutuhan anak, salah satunya melalui dialog.
Penulis Buku Positive Parenting, Mohammad Fauzil Adhim menjelaskan dalam tulisannya yang dilansir dari Hidayatullah.com bahwa berdialog adalah cara yang ampuh untuk bosa mengenal anak baik dan buruk. Mengetahui apa saja yang menjadi keinginan anak sehingga orang tua tidak selalu memaksakan kehendak sendiri.
“Kita ajak berbicara dari hati ke hati, pikiran terbuka dan perasaan lapang,” katanya.
Menurutnya, berdialog akan membuat orang tua lebih mudah untuk mengetahui perasaan anak yang sesungguhnya dan pada saat yang sama anak merasa lebih diterima. Sehingga dengan demikian, sikap hormat anak kepada orang tua akan muncul dengan sendirinya.
“Karena mereka merasa didengarkan dan dihargai, dan itu akan menjadikan anak lebih tumbuh dorongan untuk respek dan dekat hatinya dengan orangtua,” tambahnya.
Sebaliknya, lanjut Fauzil, bahwa cara-cara yang menjatuhkan harga diri justru membuat anak kehilangan rasa hormat kepada orangtua. Tidak hanya itu, kemungkinan buruk seperti sikap membangkang akan muncul. Anak akan terlihat taat di depan orang tua, namun di belakang, mereka akan menjadi pribadi yang suka marah, memberontak dan berani melakukan keburukan di luar rumah saat mereka berada jauh dari orang tua.
“Sangat berbeda antara takut dan respek. Yang kedua akan mendorong anak tetap melakukan hal yang baik, meskipun orangtua tidak melihatnya,” jelasnya.
Berdialog tidak hanya berbicara dari jati ke hati, namun ada skill yang mendampinginnya yaitu kesabaran, termasuk kesabaran dalam mendengar keluh kesah anak. Namun yang terjadi, kebanyakan orang tua tergesa-gesa sebelum memiliki cukup informasi. Anak belum selesai menyampaikan apa yang dipikirannya, namun orang tua sudah menyimpulkan.
“Ingin anak memahami, tetapi tak sabar dalam memberi penjelasan,” ungkapnya.
Untuk itu, agar harkat dan martabat orangtua terjaga dan anak menghargainya, maka sebagai orangtua harus bisa menjaga harkat martabat anak. Tidak menjatuhkan mereka di depan teman-temannya.[Devi]





















