Doha, Gontornews — Pemerintah Qatar mengingatkan semua pihak bahwa pengisolasian Taliban dapat mengganggu stabilitas internasional. Karenanya, ia mendesak negara-negara untuk terlibat dengan gerakan itu demi mengatasi masalah keamanan dan sosial-ekonomi di Afghanistan.
“Jika kita mulai memberikan syarat dan menghentikan hubungan ini, kita akan meninggalkan kekosongan. Pertanyaannya adalah siapakah yang akan mengisi kekosongan ini?” ungkap Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al-Thani.
“Kami percaya bahwa tanpa keterlibatan (dari banyak pihak), kami tidak akan mencapai kemajuan nyata di bidang keamanan atau bidang sosial-ekonomi,” sambungnya kepada Aljazeera.
Sebagai informasi, Qatar yang bersekutu dengan Amerika Serikat merupakan lokasi pembicaraan damai antara pemerintah Afghanistan dan Taliban sejak 2013.
Pasca pendudukan Kabul pada 15 Agustus lalu, tidak ada negara yang mengakui kepemimpinan Taliban di Afghanistan. Mayoritas negara Barat bahkan mendesak Taliban untuk membentuk pemerintahan inklusif dan menghormati hak asasi manusia.
Sheikh Mohamed juga memperingatkan potensi terorisme setelah penarikan pasukan Amerika Serikat dan seruan pembentukan pemerintahan inklusif oleh Taliban.
“Adalah peran kami untuk selalu mendesak mereka (Taliban) untuk memiliki pemerintahan yang mencakup semua pihak dan tidak mengecualikan pihak manapun,”
“Selama pembicaran kami dengan Taliban, tidak ada tanggapan positif atau negatif,” jelas Sheikh Mohamed. [Mohamad Deny Irawan]





















