Arizona, Gontornews — Tidak semua semut adalah pekerja keras. Ada beberapa koloni semut yang hidup hanya untuk memperbudak koloni lainnya. Koloni ini disebut dengan parasit sosial. Pada dasarnya koloni ini telah membuat jalan pintas evolusioner melalui kenyamanan komunitas yang kooperatif.
Alih-alih membangun jaringan komunal itu sendiri, semut jenis parasit sosial hanya mengeksploitasi koloni yang sudah ada, baik sesama spesies atau spesies yang memiliki keterkaitan erat dengan sang parasit.
Para peneliti telah mencatat strategi kehidupan yang kejam antara serangga, ikan, burung dan mamalia termasuk manusia. Tapi dalam dunia semut, peneliti menyebut strategi ini telah berevolusi setidaknya 60 kali pada sekitar 400 spesies parasit sosial.
Penelitian ini menggunakan semut formika sebagai objek penelitiannya. Peneliti, sebagaimana dilansir Science Alert, beranggapan bahwa semut formika merupakan spesies parasit paling sosial dari jenis parasit semut manapun
“Ini adalah momen kejelasan,” kata pakar biologi evolusioner, Christian Rabeling dari Arizona State University.
“Ini seperti anda memiliki semua potongan mozaik yang berbeda. Anda menempatkan satu batu dari sini dan satu batu lain di sana. Kemudian ada yang menambahkan potongan lain ke mosaik itu. Tapi begitu anda memasukkan konteks waktu evolusi, tiba-tiba anda dapat melihat keseluruhan gambar dan ini sangat memuaskan,” sambung Rebeling.
Meskipun mereka terlihat sama di permukaan, mereka semua telah berevolusi pada titik yang berbeda. Rebeling lantas membagi kelas parasitisme sosial semut formika menjadi tiga: 1) parasitisme sosial sementara; 2) parasitisme sosial dulotic; dan 3) parasitisme sosial permanen.
Untuk kelas pertama, Rabeling memberi nama kelas parasitisme sosial sementara. Kelas ini muncul setelah ratu semut kehilangan kemampuan untuk membiakkan koloni baru. Pada saat itu, kelas tersebut akan menyerang sarang lain, membunuh ratu dan membesarkan keturunannya agar bisa bertahan hidup.
Kelas parasitisme sosial kedua dikenal dengan istilah parasitisime sosial dulotic. Fase ini sama dengan parsistisme sosial sementara. Pertama, ratu semut menyerang dan mencuri sarang semut lain. Setelah sang ratu mengumpulkan banyak semut pekera, pasukan semut formatik ini menyerang sarang lain untuk menangkap anak-anak semut lain. Selanjutnya, parasit tersebut akan memakan anak-anak yang dicuri atau membesarkan mereka sebagai bagian dari keluarga.
“(Para semut pekerja) mengira mereka berada di rumah sendiri. Mereka, bahkan, tidak menydari bahwa mereka berada di sarang spesies yang berbeda,” kata Rabeling. Tidak seperti kelas parasitisme sosial semenetara, semut formika pada kelas parasitisme sosial dulotic tampak memiliki satu asal.
Kelas parsitisme sosial kedua dikenal dengan parasistisme sosial permanen. Kelas ini, jelas Rabeling, merupakan yang paling aneh karena ratu semut menyerang sarang lain, ratu tersebut dapat hidup bersama tanpa pernah benar-benar saling mengganggu satu sama lain. Ratu inang terus memproduksi jejaring sosial pekerja seperti biasa, sedangkan ratu parasit berfokus pada reproduksi.
“Bagi kami, ini adalah periode yang fantastis,”
“Hanya kemampuan untuk mengajukan pertnyaan-pertanyaan ini mungkn merupakan bagian paling menarik dari penelitian ini,” tutup Rabeling. [Mohamad Deny Irawan]





















