Ramadhan momentum terbaik mendekatkan diri kepada Allah SWT. Sepanjang bulan suci, umat Islam beramai-ramai menggiatkan ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan dan kasih sayang-Nya. Masjid yang biasanya sepi menjadi ramai. Al-Qur’an yang tadinya jarang disentuh, kini menjadi sering dibaca. Ada apakah dengan Ramadhan? Mengapa bulan ini mampu menggerakkan ratusan juta Muslim bertaqarrub kepada Allah? Apa tujuan berpuasa dan beribadah pada Ramadhan?
Cendekiawan Muslim yang juga ketua Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) Pusat Prof. Dr. Mohammad Baharun menjawab permasalahan itu kepada wartawan Majalah Gontor Erdy Nasrul. “Marhaban ya Ramadhan,” ujar guru besar sosiologi agama ini sambil tersenyum dan mengangkat kedua tangannya. Berikut ini perbincangannya.
Bagaimana cara kita meramaikan Ramadhan di tengah pandemi Covid-19?
Sejak tahun 2020 kita dihadapkan pada pandemi Covid-19. Tidak mudah kita menjalani kehidupan seperti itu. Kita harus menerapkan protokol kesehatan, seperti mengenakan masker, memperbanyak cuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan. Juga vaksin. Ini upaya melindungi fisik atau imunitas.
Selain itu ada juga upaya melindungi hati kita dengan memperbanyak ibadah dan doa. Ini upaya meningkatkan imanitas kita. Ramadhan merupakan amal strategis kita untuk meningkatkan imanitas. Kita shalat berjamaah di masjid, mendaras al-Qur’an, mendalami ilmu-ilmu keislaman, juga bershalawat. Semua itu kita perbanyak. Ini syiar Ramadhan yang menenangkan hati. Kita harus lestarikan hal itu. Syiar Ramadhan jangan sampai suram.
Apakah substansi Ramadhan?
Era kehidupan yang serba canggih sekarang ini memanjakan orang dengan berbagai fasilitas. Orang menjadi mudah mewujudkan banyak keinginan. Ketika ada yang tak terwujud, orang menjadi cemas. Anda bisa lihat Laporan Google 2021, bahwa kata kunci yang banyak dicari ketika itu adalah anxiety (cemas). Ini berarti banyak orang mencari tahu apa itu cemas dan bagaimana lepas darinya.
Ramadhan adalah momentum memperbanyak ibadah: berdzikir, bermunajat, mengadu kepada Allah. Tiada lain itu semua untuk menyucikan hati, sehingga dengan begitu rasa cemas pergi dari hati kita. Ini kesempatan yang sangat baik sekali untuk menata hati: dari yang resah, dan gelisah, menjadi muthmainnah.
Dalam al-Quran dinyatakan bahwa manusia itu hakikatnya memiliki potensi baik dan buruk. Maka berbahagialah manusia yang menyucikan jiwanya. Dan rugilah yang mengotorinya. (QS. 92:8-10).
Menurut saya bukan hanya manusia, namun hewan pun juga hakikatnya berpuasa pada waktu-waktu tertentu sesuai kodratnya. Ulat yang jahat, semula berpotensi merusak tanaman, setelah berpuasa dan ‘iktikaf’ dalam kepompong: tidak makan dan minum dalam waktu-waktu tertentu, maka saat lebaran ia seperti dilahirkan kembali (fitrah) menjelma jadi kupu-kupu. Inilah deskripsi puasa yang produktif dan berhasil. Menjadi kupu-kupu yang indah dan kemudian hanya menghisap sari bunga tanpa merusak. Tetapi sebaliknya lihatlah ular yang buas, memang berpuasa: tidak makan dan minum setelah usai puasa, maka ia ‘berlebaran’ dengan kulit yang baru. Tapi toh tetap ia buas dan ganas. Inilah puasa yang gagal, hanya mendapat lapar dan dahaga. Berpuasalah seperti kepompong.
Apa langkah awal menuju perubahan yang lebih baik dalam momentum Ramadhan kali ini?
Kita perbaiki akhlak. Dari yang kurang, bahkan tidak baik, menjadi baik. Kita biasakan diri kita untuk bersikap mulia. Misalkan kita mulai dari yang sederhana, memperbaiki perlakuan terhadap diri sendiri, keluarga, dan orang lain. Kalau sudah baik tentu kita tambah lagi kebaikannya sehingga hati menjadi lembut. Dengan begitu, orang lain, bahkan Allah, menjadi ridha dengan perangai kita, dan apa yang keluar dari diri kita menjadi berlimpah kebaikan.
Salah satu cara memperbaiki akhlak dengan berpuasa?
Pada bulan apa pun selalu ada anjuran puasa. Ini merupakan legasi para nabi dahulu. Nabi kita habibuna Muhammad SAW pun menganjurkan kita berpuasa, misalkan pada hari Senin dan Kamis. Secara kasat mata, puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan ibadah itu, seperti makan, minum, dan jimak, mulai dari terbit fajar sampai mentari tenggelam. Sederhananya begitu.
Itu kan perbuatan yang mubah, tapi kenapa pada saat menjalankan puasa justru menjadi tak boleh dilakukan?
Ini berkaitan dengan substansi atau makna puasa, termasuk di dalamnya adalah puasa wajib 30 hari pada bulan Ramadhan. Masya Allah, ini adalah bulan penuh berkah, dan jika sepanjang bulan ini kita bersungguh-sungguh beribadah dan bermunajat, maka sangat mungkin kita menjadi kekasih Allah.
Rasulullah sudah mencontohkan apa yang harus dilakukan sepanjang Ramadhan. Beliau berpuasa, bukan sekadar menghindari apa yang tadi dilarang, tapi juga menjauhi perbuatan tercela. Pada tingkatan yang lebih tinggi lagi, meninggalkan segala perbuatan tak bermanfaat untuk ketenangan batin. Contohnya begini, sebelum Ramadhan ada orang biasa berkumpul bersama kerabatnya untuk sekadar bersenda gurau, lalu tertawa. Ini kan perbuatan yang sia-sia.
Pada saat Ramadhan, orang lebih baik mengganti perbuatan itu dengan yang lebih bermanfaat, seperti membaca al-Qur’an. Membicarakan kelezatan makanan pada hari-hari biasa merupakan perbuatan yang boleh-boleh saja. Tapi ketika itu dilakukan pada saat melaksanakan puasa Ramadhan, tentu akan mengganggu kekhusyuan puasa. Karena itu, kebiasaan tersebut bisa diganti misalkan dengan memberi makan fakir miskin, anak yatim, dan dhuafa.
Apa contoh lain perbuatan sia-sia pada bulan Ramadhan?
Hindari banyak makan. Atau ketika puasa iya menahan diri dari makan dan minum, tapi ketika waktu berbuka puasa tiba, malah mengisi perut dengan makan dan minum sebanyak-banyaknya. ini harus dihindari, karena kalau itu yang dikerjakan, kita tidak berempati, tidak bersyukur, dan akhirnya malah menjadikan puasa kita sia-sia.
Apa kaitan empati dengan ibadah puasa?
Ada orang yang setiap hari makan tiga kali. Tapi di dekat mereka ada juga yang makan hanya sekali dalam sehari. Entah makanan macam apa yang dimakan. Kita coba merasakan apa yang diderita orang yang sehari makan hanya sekali. Seperti apa sih rasanya.
Di sini kita dilatih untuk lebih banyak berbagi kepada orang lain. Kita dianjurkan untuk sedikit meniru Sang Pencipta kita. Allah yuth’imu wa la yuth’am [Al-An’am ayat 14]. Rabb kita itu memberi, bukan diberi makan. Ini akan sangat besar nilainya jika kita amalkan pada Ramadhan nanti. Kita banyak memberi makan orang, sehingga kita menyelamatkan mereka dari serangan penyakit. Selama Ramadhan kita menyaksikan ada banyak orang memberi makanan berupa hidangan ifthar yang sederhana atau yang lengkap (nasi kotak/prasmanan) kepada orang-orang baik melalui masjid maupun lembaga amil zakat.
Siapakah orang yang patut kita teladani dalam hal memberi makan para dhuafa?
Ada keturunan Rasulullah yang luar biasa dermawan. Namanya Habib Ali bin Muhammad bin Husein al-Habsyi [Abad ke-19]. Suatu ketika banyak orang datang ke Hadhramaut [Yaman] dari Rahiyah, karena paceklik. Berita itu sampai kepada Habib Ali. Kemudian beliau mengumpulkan warga dan mengundang orang-orang pendatang dari Rahiyah itu ke rumahnya untuk makan. Setelah itu Habib Ali menanamkan benih keimanan, kemudian mengajarkan mereka shalat, dan amalan ibadah lainnya. Bukan sekali atau dua kali. Ini dilakukan setiap hari selama dua bulan.
Ketika kemarau berakhir, mereka kembali ke Rahiyah. Sampai di kampung halaman, mereka membawa kebahagiaan lahir berupa terpenuhinya kebutuhan pangan, plus membawa kebahagiaan batin berupa pelajaran iman dan ibadah yang kemudian mereka sebarluaskan kepada keluarga dan handai tolan. Ini amal jariyah berefek ganda yang menjadikan banyak orang semakin bertakwa. Sungguh amalan yang sangat mulia.
Menjelang Ramadhan tahun ini, alangkah baiknya tradisi memberi makan kaum dhuafa, seperti yang dicontohkan Habib Ali tadi, kita kerjakan. Insya Allah akan sangat bermanfaat untuk ketenangan jiwa dan menambah kesyukuran.
Apa kekhasan dan hikmah puasa?
Puasa ini punya nilai sendiri di mata Allah. Bahkan Allah langsung yang mengganjar pelaku puasa [wa ana ajzi bihi]. Berapa banyak, ya itu urusan Allah. Semakin sungguh-sungguh berpuasa, maka semakin besar pahala yang didapat.
Selain itu, Allah mengarahkan kita untuk mandiri mendapatkan hikmah puasa. Kita sudah mengetahui bersama ada banyak penelitian bahwa puasa berdampak positif terhadap imunitas tubuh, atau kesehatan secara umum. Tapi itu hanya sebagian kecil. Ada banyak lagi hikmah tersembunyi ibadah satu ini. Kalau kita mengetahui semua itu, maka niscaya kita menginginkan seluruh bulan, seluruh hari, bahkan setiap jam dan detik, merupakan Ramadhan. Masya Allah.[]

















