London, Gontornews — Sebuah acara khusus PBB untuk krisis kemanusiaan tetap melihat krisis kemanusiaan di Yaman sebagai permasalahan penting. Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, Rabu (16/3/2022), mengatakan penderitaan manusia di Yaman belum berkurang sekalipun sorotan media internasional telah surut.
“Yaman mungkin telah surut dari pemberitaan utama. Tetapi, penderitaan manusia belum berkurang. Selama tujuh tahun, dan setelahnya, warga Yaman menghadapi kematian, kehancuran, pemindahan, kelaparan, perpecahan dan kemiskinan dalam skala besar,” kata Guterres sebagaimana dilansir Arab News.
“Puluhan ribu warga sipil, termasuk setidaknya 10.000 anak-anak, telah tewas. Bagi jutaan pengungsi dalam negeri, kehidupan hari ini adalah perjuangan untuk bertahan sehari-hari. Ekonomi telah mencapai tingkat keputusasaan yang baru,” sambung Guterres.
Guterres, secara khusus, mengomentari invasi Rusia di Ukraina yang mendorong lonjakan harga pangan global. “Perang di Ukraina hanya akan memperburuk semuanya, termasuk, semakin melonjaknya harga makanan, bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya,” ucap Guterres.
Perdana Menteri Yaman, Maeen Abdulmalik Saeed, mengatakan rakyatnya tidak lagi bisa menoleransi situasi. Krisis ekonomi dan kemanusiaan yang terjadi di dalam negeri membuat harapan warga Yaman tertutup.
Ia menambahkan bahwa bantuan kemanusiaan PBB berhasil menyelamatkan banyak warga dari bencana kelaparan. Karena itu, setiap pengurangan dana bantuan ke Yaman maupun yang terhambat dapat meningkatkan tekanan bagi rakyat Yaman. [Mohamad Deny Irawan]

















