Depok, Gontornews –– Profesi para alumni Pondok Modern Darussalam Gontor sangat beragam. Bukan hanya berkiprah dalam bidang pendidikan, tetapi mereka juga banyak yang berperan di masyarakat dalam berbagai bidang sesuai dengan kemampuannya.
Salah satunya adalah seorang pengusaha, yang juga alumni Gontor tahun 1982, Ustadz H. Kamil Rayana. Ustadz Kamil adalah sosok pengusaha kuliner yang terkenal sebagai pemilik Rumah Makan Gubug Gurame Depok dan Saputra Tour and Travel.
Setelah menamatkan di Gontor tahun 1982, Ustadz Kamil melanjutkan belajar di Universitas Jayabaya Jakarta mengambil Fakultas Ekonomi. Tak puas di Jayabaya, ia juga mendalami ilmu agama di LIPIA Jakarta.
Kemampuannya berbahasa Arab yang bagus, ia kemudian bisa diterima bekerja di Kedutaan Saudi Arabia untuk Indonesia. Delapan tahun mencari pengalaman, ia akhirnya keluar dan merintis usaha Pengiriman Jasa TKI ke Timur Tengah.
Sebelum ada moratorium TKI, Ustadz Kamil banyak memberangkatkan tenaga kerja asal Indonesia untuk dipekerjakan di negara Timur Tengah. Perusahaan TKI di Indonesia berkembang sangat besar, termasuk perusahaan yang dipimpin Ustadz Kamil.
Bertahun-tahun di bisnis TKI, ia lalu berinvestasi lahan di wilayah Tapos Depok seluas 17.000 meter yang sekarang ini dijadikan rumah makan model saung. Hingga akhirnya, masa emas bisnis TKI menghilang akibat moratorium TKI yang dikeluarkan pemerintah.
Indonesia tidak lagi mengirim TKI kecuali yang mempunyai skill memadai. Dan, mulailah perusahaan TKI rontok satu per satu. Ribuan orang yang berada dalam bidang PJTKI harus mengubah jalan hidupnya untuk berpindah di bidang lain.
Banyak orang yang tidak siap dengan perubahan, hingga akhirnya terpuruk. Melihat situasi bisnis PJTKI yang sulit berkembang, Ustadz Kamil lalu mencoba membuat bisnis baru; membuat kolam gurame.
Tanah yang dibelinya hasil usaha di PJTKI dijadikan kolam-kolam gurame. Usahanya berkembang, tetapi Ustadz Kamil merasa bahwa jika hanya menjual ikan hidup, tidak bisa berkembang besar. Harus dijual dengan nilai tambah.
Pikiran kreatif Ustadz Kamil akhirnya menemukan bahwa ia harus membuat Rumah Makan khas Gurame dari hasil kolamnya. Dengan demikian, ia memberikan nilai tambah, tidak sekadar menjual ikan, tetapi menjual olahan ikan.
Dengan konsep rumah makan keluarga, akhirnya tahun 2014, Rumah Makan Gubug Gurame didirikan. Mengusung konsep menikmati ikan gurami di atas kolam, sembari menikmati suasana di atas kolam.
Ustadz Kamil akhirnya mencari orang-orang yang terampil dan profesional di bidangnya, mulai dari chef (ahli masak) berpengalaman, hingga ahli restauran untuk mengelola dari sisi manajemen perusahaan. Jadilah, Rumah Makan Gubug Gurame di Depok sekarang ini menjadi rujukan dan tempat makan keluarga yang selalu ramai.
Rumah Makan Gurame yang ia bangun didesain untuk bisa dimanfaatkan untuk acara pertemuan, baik untuk keluarga atau perkantoran. Dengan kapasitas hingga 800 orang, rumah makan ini siap memberikan sajian terbaik bagi pengunjung yang datang.
Bagi Ustadz Kamil, menjadi seorang pengusaha harus berani mencoba bisnis yang baru. “Jangan takut bisnis, Allah mencitapakan kita untuk berusaha, baik kehidupan dunia dan akhirat. Kita harus mencari akhirat dulu maka dunia akan didapat,” ungkapnya dalam sebuah sesi wawancara di TVRepublika.
Keberhasilannya dalam membangun bisnis Rumah Makan Gurame ini semata-mata karena karunia Allah. Keberhasilan menjadi pengusaha karena karunia Allah. Karena itu dalam berbisnis harus terus menjaga keimanan dalam hati.
Ustadz Kamil berpesan, dalam menjalankan bisnis kuliner ini, sehari-hari harus mengedepankan kejujuran, menjaga rasa, kualitas ikan, kebersihan dan pelayanan yang maksimal. “Kita harus melayani pengunjung yang datang,” ujarnya.
“Kepada santri jangan takut berbisnis, jatuh bangun adalah hal yang biasa. Yang tidak berhasil adalah ketidakmampuan kita menjaga keikhlasan dalam berbisnis, karena kita tidak tahu rahasi Allah,” tuturnya.
Terlihat gairah yang luar biasa dari Ustadz Kamil ketika bicara soal bisnis dan Gontor. Sifatnya yang sederhana menjadi teladan bagi para alumni, dan ia memang membuka tempat seluas-luasnya bagi masyarakat, khususnya alumni Gontor yang mau belajar.
Mahfuzhat Man Jadda Wajada bukan sekadar semangat, tetapi menjadikan diri menjadi lebih profesional dan menjadi energi positif. Begitulah, Gontor dengan berbagai jaringan alumni yang tersebar di seluruh Indonesia menjadi kekuatan besar untuk bersama membangun Indonesia lebih baik. [fath]




















