Ary, demikian panggilan akrabnya. Ia mendapatkan amanah sebagai diplomat di KBRI Praha Republik Ceko sejak 2022. Meski ia sebagai diplomat, Ary selalu teringat wejangan Kiai Gontor, bahwa dimanapun kelak para santri mengabdi, ‘Di keningmu ada Gontor’.
“Ini mempunyai arti yang dalam, bahwa sebagai diplomat pun kami tetaplah seorang santri yang harus membawa nilai-nilai luhur yang pernah diperoleh saat mengenyam pendidikan di Gontor,” ungkap lelaki kelahiran Pangkalan Susu, 22 Maret 1973 ini.
Setamat dari Gontor tahun 1992, ia sempat mengabdi di Pesantren Darul Arafah Medan. Lalu melanjutkan kuliah di International Islamic University Malaysia (IIUM) tahun 1994 jurusan Mass Communication, lulus tahun 1998 bergelar Bachelor of Human Sciences (B.HSc.).
Setelah dari IIUM, Ary mengajar di Madrasah Muallimin Yogyakarta selama setahun. Lalu tahun 2000 lanjut kuliah S2 di Universitas Gajah Mada jurusan perbandingan agama. “Saya mendaftar dan lulus menjadi salah satu dari 23 mahasiswa angkatan pertama program tersebut,” ungkap Ary yang lulus UGM tahun 2003 dengan gelar Magister Agama (MA).
Pertengahan 2004, Kemenlu membuka lowongan pekerjaan bagi 100 orang untuk menjadi PNS dan dididik menjadi diplomat. “Walaupun terdapat sedikit keraguan, apakah ijazah S2 saya sesuai dengan persyaratan yang diminta, saya tetap mencoba untuk mengirim lamaran,” kisah Ary yang pernah menjadi instruktur bahasa Inggris di lembaga Bahasa LIA Yogyakarta ini.
Singkat cerita, dari ribuan pelamar, Ary masuk dari 100 orang yang diterima sebagai CPNS di Kemenlu. “Saya ingat betul bahwa penerimaan tersebut diumumkan pada tanggal 27 Desember 2004, sehari setelah musibah Tsunami di Aceh,” ujar ayah dari tiga anak ini.
Saat mondok di Gontor, sama sekali tak terpikir akan menjadi diplomat atau bekerja di Perwakilan Indonesia di luar negeri. Saat kuliah di Malaysia, mulai sedikit mengenal dunia diplomasi dan pekerjaan seorang diplomat. Namun, saat itu masih belum ada bayangan untuk bekerja di Kementerian Luar Negeri sebagai PNS sekaligus sebagai seorang diplomat.
Penempatan pertama kali, Ary bertugas di KBRI Beirut, Lebanon sejak Oktober 2008 hingga Maret 2012 sebagai Sekretaris Ketiga. Penempatan kedua di KBRI Amman, Yordania merangkap Palestina sejak Juli 2015 hingga Januari 2019 sebagai Sekretaris Pertama. Penempatan ketiga di KBRI Abuja, Nigeria, merangkap beberapa negara di Afrika sejak September 2020 – Juli 2022, kemudian crosspost ke KBRI Praha, Republik Ceko sejak Agustus 2022 – Juli 2024 sebagai Counsellor.
“Siklus penugasan seorang diplomat biasanya tiga sampai empat tahun di luar negeri dan dua sampai tiga tahun di dalam negeri,” ungkap Ary yang saat nyantri pernah menjadi Kepala Bagian Penerimaan Tamu (Bapenta) di Gontor.
Ary merasakan tantangan yang dihadapi seorang diplomat cukup berat, namun semua itu sudah menjadi risiko yang harus dihadapi dalam menjalankan amanah negara. Misalnya saja, saat ditugaskan di KBRI Beirut, yang berbatasan langsung dengan Israel, ancaman serangan dari Israel selalu ada, khususnya terhadap milisi Hizbullah yang dapat berdampak langsung terhadap keselamatan WNI yang berdomisili di Lebanon.
Begitu juga saat bertugas di KBRI Amman yang merangkap Palestina, tantangan utama yang dihadapi adalah memastikan keselamatan WNI yang melakukan kunjungan ke Yerusalem, di mana sering terjadi bentrokan antara aparat keamanan Israel dengan warga Palestina, yang dapat berdampak terhadap WNI.
KBRI Abuja sebagai perwakilan rawan, tantangan utama yang dihadapi adalah faktor keamanan, seperti antara lain ancaman terorisme boko haram, konflik politik internal, penculikan anak sekolah oleh kelompok kriminal, dan scamming.
Saat berdinas di KBRI Praha, tantangan yang dihadapi antara lain terkait dengan dampak dari perang antara Rusia dan Ukraina yang hingga saat ini belum selesai, yang menyebabkan inflasi yang tinggi sehingga harga-harga meningkat tajam.
Meskipun saat bertugas di beberapa negara dengan kerawanan konflik, Ary mempunyai kesan mendalam saat berada di negara-negara tersebut. Misalnya saat di Beirut, bekerja sama dengan TNI yang bertugas di UNIFIL di wilayah Lebanon Selatan. Menerima kunjungan Pimpinan PM Darussalam Gontor dan Rektor UNIDA ke Lebanon dalam rangka melakukan kerja sama dengan beberapa Universitas di Lebanon.
Saat di KBRI Amman terlibat peristiwa bersejarah pembukaan Konsulat Kehormatan di Ramallah, Palestina pada tahun 2016 dan sempat berkunjung ke makam Yaser Arafat di Ramallah dan Masjidil Aqsha di Yerusalem.
Begitu juga di KBRI Abuja, memfasilitasi penyelesaian masalah gaji PMI yang belum dibayarkan di Nigeria dan negara-negara rangkapan lainnya yang mencapai Rp2,7 miliar. Serta memfasilitasi upaya pemberian beasiswa oleh PM Darussalam Gontor kepada anak-anak Nigeria, namun terkendala oleh Pandemi Covid-19.
Ary menjelaskan, tugas-tugas diplomat secara ringkas ada enam, yaitu representing, negotiating, protecting, promoting, reporting, dan managing. Sebagai Counsellor yang melaksanakan fungsi Protokol dan Konsuler, ia juga melaksanakan tugas pelayanan notariat, kehakiman dan jasa konsuler, perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia, pelayanan pengeluaran paspor, pendataan WNI di negara akreditasi dan masih banyak lagi.
Di luar aktivitas tugas sebagai diplomat, Ary juga menyempatkan untuk jalan-jalan menikmati tempat-tempat baru saat tingal di luar negeri, terutama destinasi favorit di negara penempatan maupun di negara tetangga. “Dengan semakin banyak melihat keindahan ciptaan Allah, maka akan membuat kita semakin banyak bersyukur atas karunia yang Allah berikan kepada kita,” tuturnya.
Menurut Ary, santri Gontor sangat berpeluang untuk berkarir sebagai diplomat. Sudah ada beberapa alumni Gontor yang mencapai puncak karir seorang diplomat sebagai Duta Besar, antara lain AM Fachir yang juga sempat menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri, Alm. Maftuh Basyuni, Alm. Muhammad Muzammil Basyuni, dan Prof Dr Husnan Bey Fannani.
Menurutnya, pendidikan selama 6 tahun di Gontor bermanfaat menjadi bekal sebagai seorang diplomat. Pendidikan disiplin yang tinggi di setiap aspek kehidupan kita sebagai santri tentu sangat berpengaruh dalam kehidupan kerja saat ini untuk terus maju dan berkembang.
Di Gontor ia bergaul dengan santri-santri yang datang dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri. Ini juga menjadi modal saat menjadi diplomat yang dituntut dapat mengembangkan jejaring yang luas dengan berbagai kalangan internasional.
“Selama di Gontor, kita juga diajarkan untuk siap memimpin dan siap dipimpin. Hal inilah yang juga dipraktikan dalam dunia kerja, bahwa suatu saat kita dapat menjadi pemimpin, namun di lain waktu kita harus mau untuk dipimpin,” ujarnya.
Ary mengatakan, bila santri Gontor bercita-cita menjadi diplomat, maka dapat disiapkan sedini mungkin dua bahasa asing, Arab dan Inggris yang diajarkan di Gontor perlu terus diperdalam, ini sudah menjadi modal awal untuk menjadi seorang diplomat.
Saat memasuki jenjang kuliah, pilihlah jurusan-jurusan yang relevan dan memang berpeluang untuk menjadi diplomat, utamanya jurusan Hubungan Internasional. Selain jurusan HI, ada beberapa jurusan lain yaitu Ilmu Komunikasi, Ilmu Ekonomi, Bahasa dan Sastra Asing, Ilmu Administrasi, Ilmu Hukum, dan Ilmu Politik.
Ary merasakan, bahwa nasihat dan wejangan dari para Kiai Gontor yang menjadi motivasi baginya dalam melaksanakan tugas. “Keikhlasan para guru dan Kiai di Gontor untuk mendoakan yang terbaik bagi santri-santrinya tentu memberikan dampak yang signifikan kepada kami semua,” tuturnya. [Fathur]





















