Bangkok, Gontornews — Badan PBB untuk pengawasan obat-obatan dan kriminal, United Nation Of Drugs and Criminal (UNODC), Senin (30/5/2022), mengatakan, sepanjang tahun 2021, jumlah pil metamfetamin yang disita di Asia Timur dan Asia Tenggara mencapai lebih dari 1 Miliar tablet.
Secara khusus, UNODC menjelaskan bahwa penyitaan 1.008 miliar tablet metamfetamin itu merupakan bagian dari penangkapan hampir 172 ton metamfetamin dalam segala bentuk di seluruh wilayah, tujuh kali lebih tinggi dari penyitaan dalam rentang waktu 10 tahun terakhir.
βProduksi dan perdagangan metamfetamin melonjak lagi karena pasokan menjadi sangat terkonsentrasi di Mekong (sepanjang aliran sungai), khususnya, Thailand, Laos dan Myanmar,β kata perwakilan UNODC untuk regional Asia Tenggara, Jeremy Douglas, sebagaimana dilansir Associated Press.
Badan PBB tersebut menjelaskan bahwa peningkatan produksi membuat obat-obatan seperti metamfetamin menjadi lebih murah dan lebih mudah diakses oleh sebagian besar warga. Sejauh ini, pil metamfetamin mudah dibuat dan telah menggantikan opium dan turunan dari heroin untuk menjadi obat terlarang yang dominan di Asia Tenggara.
Daerah segitiga emas, tempat perbatasan Myanmar, Laos dan Thailand, secara historis merupakan daerah produksi utama opium dan tuan rumah dari banyak laboratorium pembuat heroin. Ketidakstabilan situasi politik telah membuat daerah perbatasan Myanmar menjadi daerah tanpa hukum.
βSetiap kelompok menyangkal keterlibatan dalam produksi dan perdagangan narkoba dan menunjuk kelompok lain sebagai pihak yang bertanggung jawab. Tetapi potensi ekonomi (dari penjualan) narkoba bisa dibilang merupakan bagian terbesar dari ekonomi di sebagian besar atau banyak bagian Shan dan daerah perbatasan Myanmar,β kata Douglas. [Mohamad Deny Irawan]






















