Depok, Gontornews — Komunitas Mau Bener Bareng pada sebuah kajian malam berhasil menghadirkan seorang dokter, aktivis dakwah, sekaligus penulis yakni dr Ratih Paradini S Ked. Di tengah kesibukkannya, dr Ratih mencoba memaparkan sejumlah permasalahan yang terus marak terjadi yakni tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender).
Kepada Gontornews.com, perempuan kelahiran Wotu 1995 ini lantas menjabarkan beberapa bahaya LGBT. Pertama, tidak sesuai fitrah. LGBT merupakan penyimpangan dari fitrah manusia.
Fitrah manusia jelas terdiri dari lelaki dan perempuan, dengan organ reproduksi yang tak bisa dipertukarkan dan diganti. Misalnya pada kaum perempuan diciptakan rahim, sel telur, kelenjar prolactin yang nantinya membentuk ASI. Adapun laki-laki memiliki hormone testoteron dan sel sperma.
Kedua, merusak nasab. Tujuan penciptaan manusia dengan kelamin pria dan wanita adalah agar manusia berketurunan. Kehadiran kaum gay dan lesbian yang tidak mungkin punya keturunan biasanya mengadopsi anak dari pasangan lain atau melakukan sewa Rahim (surrogacy), jelas akan menambah kerusakan karena mengacaukan nasab anak yang juga diharamkan oleh syariat.
Ketiga, penularan penyakit kelamin. “Badan kesehatan dunia yang menangani epidemic AIDS, UNAIDS, melaporkan bahwa di seluruh dunia perilaku gay berpotensi 25 kali lebih besar tertular HIV,” jelas dr Ratih, founder @dokter_hijrah.
Penelitian yang dilakukan Cancer Research Inggris juga menemukan bahwa homoseksual lebih rentan terkena kanker terutama kanker anus, karena perilaku seks menyimpang yang dilakukan.
Sebuah studi menyebutkan, tambahnya, bahwa seorang gay punya pasangan antara 20-106 orang pertahunnya. Bahkan ditermukan bahwa sekitar 43 persen kaum gay tersebut selama hidupnya melakukan homoseksual dengan 500 orang bahkan lebih.
Keempat, kekerasan seksual. Data statistik kejadian kekerasan domestik pada pasangan rumah tangga di Amerika menggambarkan jumlah kekerasan pada pasangan homoseksual, baik lesbi maupun gay sebesar 26,8%. Angka ini jauh lebih tinggi hampir seratus kali lipat dibanding pada pasangan rumah tangga heteroseksual (0,31%).
Lantas dapatkah LGBT kembali ke fitrah? Pertama, jawab dokter berparas cantik itu, kenali dirinya sebagai hamba. Bahwasanya kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita perbuat. “Apa yang kita mau belum tentu itu baik untuk kita dan belum tentu itu benar,” tegas dr Ratih.
Kedua, sadari. Ketika ada satu bentuk penyimpangan, baik dari faktor lingkungan, trauma masa lalu, dan lainnya, jika ada suatu kesadaran akan kekeliruan itu maka cegahlah. Berdamailah dengan trauma masa lalu, bahkan jika diperlukan mintalah bantuan ke orang yang professional. “Kemudian tinggalkan atau batasi lingkungan yang toxic (membenarkan, mendukung, atau mengajak perilaku LGBT),” tutupnya. [Edithya Miranti]


















