Padang, Gontornews — KH Imam Zarkasyi merupakan salah seorang kiai pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Sebelum fokus mendirikan dan membesarkan Pondok Gontor bersama kedua saudaranya (KH Ahmad Sahal dan KH Zainuddin Fannanie), KH Zarkayi ternyata pernah mendalami sejumlah ilmu pengetahuan dan mendapatkan nilai-nilai perjuangan dari sejumlah ulama di Padang Panjang, Sumatera Barat.
Disebutkan bahwa KH Imam Zarkasyi pada tahun 1930-an datang ke Padang Panjang untuk belajar di Sumatera Thawalib yang pada saat itu dipimpin oleh Tuanku Mudo Abd Hamid Hakim yang menggantikan kepemimpinan Syekh Abdul Karim Amrullah (ayah dari Buya Hamka).
Prof Dr Hamid Fahmi Zarkasyi MA MPhil menyebutkan, βPada saat itu pembaruan pendidikan dan pemikiran Islam di Indonesia telah muncul di Padang Panjang.β
Sebagaimana disadur Topsumbar.co.id, putra KH Imam Zarkasyi itu pun menambahkan, βOrangtua kami Kiai Imam Zarkasyi yang sebelumnya belajar di berbagai pesantren di Jawa Timur dan Solo, atas saran dari gurunya agar belajar di Thawalib.β Alasannya karena para guru Thawalib sebagian besar tamat dari Timur Tengah. βDan termasuk belajar dalam hal sistem pendidikan Islam modern yang sudah diterapkan di Thawalib,β tegasnya.
Selain Perguruan Thawalib, Perguruan Diniyyah Putri di Padang Panjang juga memiliki peran besar dalam melahirkan karakter tokoh pendidikan KH Imam Zarkasyi. Sebab sebagian tokoh Diniyyah Putri juga merupakan guru dari Kiai Imam Zarkasyi.
βKH Imam Zarkasyi nyantri di Perguruan Thawalib dan juga ke sebagian tokoh-tokoh Perguruan Diniyyah Putri,β terang Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA, cucu KH Imam Zarkasyi. Malah, tambah Kiai Fauzi, ia mendapat info dari keluarga dalam Diniyyah Putri bahwa Kiai Imam Zarkasyi kalau makan pasti ke dapur dalam ibu Nyai Pengasuh Diniyyah Putri.
Itu artinya kedekatan emosional KH Imam Zarkasyi sudah terbangun erat sejak lama dengan tokoh setempat. Keselarasan niat untuk siap dan tulus berjuang di jalan Allah pulalah yang kemudian menyatukan hati Kiai Imam Zarkasyi dengan para pejuang Islam lainnya. βHanya orang yang betul-betul jadi pejuang ikhlas yang mengerti dan faham arti perjuangan,β tekan KH Fauzi.
KH Fauzi Tidjani pun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada kedua lembaga di atas yang sudah melahirkan karakter sosok tokoh pendidikan yang telah mewarnai dunia pendidikan pesantren modern yaitu KH Imam Zarkasyi, kakeknya sendiri. βAdanya dua lembaga itu, maka Gontor pun ada dan sebaliknya,β imbuh kiai muda itu.
Pengaruh pergerakan dan pemikiran Perguruan Thawalib dan Gontor, hingga kini telah banyak menyentuh hati pejuang Islam lainnya. “Kakek saya dari bapak yakni KH Ahmad Djauhari Khatib, ternyata dulu juga pernah mendirikan sekolah yang dinamakan Thawalib dan hal itu terinspirasi dari Thawalib Padang, meskipun kurikulumnya tidak sama,” lanjut Kiai Fauzi.
Ia juga pernah mendirikan Muβallimin terinspirasi dari KMI (Kulliyyatul Muβallimin al-Islamiyyah) Gontor sampai didirikan oleh putra-putranya yakni TMI (Tarbiyatul Muβallimien Al-Islamiyah) Al-Amien. βMaka, kakek saya, Kiai Ahmad Djauhari memondokkan semua putranya ke KMI Gontor yaitu KH Mohammad Tidjani, KH Mohammad Idris, dan KH Maktum,β tutup penerus perjuangan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Madura, tersebut kepada Gontornews.com. [Edithya Miranti]






















