Pendidikan selalu menjadi perdebatan sekarang ini. Banyak isu yang beredar terkait dengan metode tepat guna dalam pembelajaran. Mulai dari penerapan multimedia, menambah jam belajar, sampai mengubah sistem pembelajaran yang lebih efektif. Sebuah teknologi tidak akan berhenti pada satu titik saja, karena teknologi akan selalu berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pada era sekarang ini tentu sudah banyak teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran. Mulai dari media yang berbasis 2 dimensi sampai dengan media berbasis 3 dimensi. Hal ini sangat berguna untuk mencapai keberhasilan dalam belajar.
Selain menarik, teknologi dalam pembelajaran juga dapat membuat proses belajar menjadi lebih efektif. Misalnya, dahulu pembelajaran sering hanya menggunakan tulisan di papan tulis dan para siswa mengikutinya dengan mencatat di buku tulisnya. Namun, proses pembelajaran seperti itu membuat siswa cepat jenuh dan bosan. Hal itu terjadi karena tidak adanya timbal balik antara guru dengan siswa. Untuk mengubah sistem pembelajaran tersebut, maka digunakanlah multimedia pada pembelajaran. Berbeda dengan sistem pembelajaran sebelumnya, pembelajaran dengan menggunakan multimedia dapat menarik perhatian siswa. Karena multimedia memuat gambar serta warna sebagai komponen utamanya.
Selain itu, dengan multimedia terutama dengan gambar maupun warna, maka daya ingat serta kapasitas yang diterima oleh siswa lebih panjang dan banyak. Ini terjadi dikarenakan belajar dengan metode imajinasi seperti gambar dan warna menggunakan otak kanan. Karena pada dasarnya otak kanan menyimpan gambar, warna serta yang berhubungan dengan imajinasi.
Media pembelajaran tidak hanya terhenti pada teknologi 2 dimensi saja, namun juga berkembang ke media 3 dimensi. Dengan adanya media 3 dimensi, maka pembelajaran yang bergelut pada bidang ruang lebih efektif. Karena dengan media 3 dimensi seolah-olah suatu objek lebih tampak hidup. Akan tetapi, seiring kemajuan teknologi, media berbasis teknologi 3 dimensi tidak lagi menjadi suatu yang mewah. Karena telah terciptanya teknologi 7 dimensi, yang kini disebut dengan hologram. Hologram memanfaatkan penggunaan cahaya laser yang dipancarkan pada bidang tertentu yang akhirnya tampak seperti objek hidup yang menyatu dengan sekitarnya. Hologram adalah produk dari teknologi holografi. Hologram terbentuk dari perpaduan dua sinar cahaya yang koheren dan dalam bentuk mikroskopik. Hologram bertindak sebagai gudang informasi optik. Informasi-informasi optik tersebut kemudian akan membentuk suatu gambar, pemandangan, atau adegan.
Hologram menggunakan prinsip-prinsip difraksi dan interelasi, yang merupakan bagian dari fenomena gelombang. Menurut Hikmat (2015), difraksi adalah lentur gelombang (seperti gelombang cahaya atau gelombang suara) ketika mereka lulus sekitar hambatan atau melalui sebuah lubang. Difraksi cahaya memiliki banyak aplikasi penting. Sebagai contoh, sebuah perangkat yang dikenal sebagai kisi difraksi digunakan untuk memecah cahaya putih menjadi komponen terpisah yang berwarna. Pola yang dihasilkan oleh kisi-kisi difraksi memberikan informasi tentang jenis cahaya yang jatuh pada mereka.
Sedangkan interferensi adalah interaksi antar gelombang di dalam suatu daerah. Interferensi dapat bersifat membangun dan merusak. Bersifat membangun jika beda fase kedua gelombang sama dengan nol, sehingga gelombang baru yang terbentuk merupakan penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. Bersifat merusak jika beda fasenya 180 derajat, sehingga kedua gelombang saling menghilangkan (Nasrudin, 2014).
Hologram sebagai Media Pembelajaran
Kata holografi berasal dari bahasa Yunani yaitu “holos” yang berarti “seluruh” dan “grafi” yang berarti “tulisan” atau “lukisan”. Hologram pertama kali ditemukan oleh fisikawan berkebangsaan Hungaria-Inggris, yaitu Dennis Gabor. Ia diberi penghargaan Nobel bidang fisika pada tahun 1971 berkat penemuan dan pengembangannya dalam metode atau teknik holografi. Penemuan ini merupakan hasil yang tidak terduga dari riset yang dilakukan dalam mengembangkan mikroskop elektron di perusahaan British Thomson-Houston (BTH) di kota Rugby, Inggris, dan perusahaan tersebut mengajukan paten pada Desember 1947. Teknik ini sampai saat ini masih digunakan dalam penggunaan mikroskop elektron, yang sekarang teknik ini dikenal dengan istilah holografi elektron. Akan tetapi, holografi optikal tidak berkembang banyak hingga penemuan laser pada tahun 1960 (id.wikipedia.org). Penggunaan hologram dalam kehidupan sehari-hari bukanlah sebuah khayalan belaka. Hal ini dibuktikan oleh Microsoft yang telah menciptakan sebuah alat yang diberi nama Hololens. Alat ini sekilas mirip seperti kaca mata namun lebih besar.
Hololens bekerja dengan menggunakan teknologi augmented reality untuk menggabungkan gambar imajiner dengan penglihatan seseorang. Augmented reality adalah sebuah teknologi yang menggunakan benda virtual ke dalam sebuah lingkungan nyata. Benda-benda maya tersebut tidak dapat diterima langsung oleh pengguna dengan inderanya sendiri. Oleh karena itu augmented reality membutuhkan sebuah alat untuk menampilkan objek maya tersebut ke dalam dunia nyata. Sebuah penemuan hologram telah ditemukan di sebuah mall Dubai, Uni Emirat Arab. Hologram ini mempertunjukkan berbagai macam hewan yang sangat menarik. Sebuah penemuan ini tentunya dapat menjadi acuan media pembelajaran masa depan. Karena selain menjadikan pembelajaran lebih mudah tetapi juga membuat kualitas materi yang didapat oleh siswa juga tinggi. Konsep hologram berbeda dengan 3D pada sebuah monitor. Hologram tentu dapat dilihat secara 360 derajat serta hologram mampu menampilkan objek dengan skala 1:1, berbeda dengan 3D di flat screen. Bukan tidak mungkin pembelajaran di masa mendatang menggunakan serba hologram. Teknologi Hologram diharap menjadi sebuah media pembelajaran yang berfungsi sebagai perubahan besar pada dunia teknologi dan dunia pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan yang lebih bermutu.[]
























