Gontornews, Jakarta — Islam memberikan tuntunan kepada umatnya untuk hidup selalu dalam rangka ibadah. Karenanya, dalam Islam keberadaan niat sangat penting, sebagai dasar seseorang mengerjakan sesuatu karena Allah atau selain Allah.
Muslim yang taat akan senantiasa berusaha menjalankan aktivitasnya dengan niat karena Allah, segala apa yang dikerjakannya semata-mata karena Allah, lillahi ta’ala. Karena itu akan dihitung sebagai bagian dari ibadah seorang Muslim.
“Setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang mendapatkan apa yang di dia maksudkan. Siapa yang hijrah karena Allah dan Rasulnya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasulnya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya maka hijrahnya karena yang dia tuju itu. (HR Bukhari dan Muslim).
Hadits di atas menekankan pentingnya mengorientasikan niat semata-mata karena Allah termasuk saat bekerja. Meniatkan bekerja hanya untuk memperoleh upah atau gaji semata maka yang diperoleh hanya sebatas materi.
Namun ketika pekerjaan diniatkan mencari ridha Allah, maka Allah pun akan memberikan kemudahan dan mencukupi segala kebutuhan orang tersebut. Sehingga tumbuh ketenangan dalam menjalaninya. Sebab hatinya sudah dipenuhi dengan kenikmatan dan rasa syukur kepada Allah.
Imam Bukhari menyebutkan hadits tentang niat ini bahwa setiap amal yang tidak diniatkan karena mengharap ridha Allah akan sia-sia, tidak ada hasil sama sekali, baik di dunia maupun di akhirat.
Al Mundzir menyebutkan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah, maka akan sia-sia”.
Menurut Imam Baihaqi, karena tindakan seorang hamba itu terjadi dengan hati, lisan dan anggota badannya, dan niat yang tempatnya di hati maerupakan salah satu dari tiga hal tersebut dan yang paling utama.
Di samping itu, niat adalah tolok ukur suatu amalan; diterima atau tidaknya tergantung niat dan banyaknya pahala yang didapat atau sedikit pun tergantung niat. Niat adalah perkara hati yang urusannya sangat penting, seseorang bisa naik ke derajat shiddiqin dan bisa jatuh ke derajat yang paling bawah disebabkan karena niatnya.
Rasulullah memberikan perumpamaan terhadap kaidah ini dengan hijrah; yaitu barangsiapa yang berhijrah dari negeri syirik mengharapkan pahala Allah, ingin bertemu Nabi untuk menimba ilmu syari’at agar bisa mengamalkannya, maka berarti ia berada di atas jalan Allah (fa hijratuhuu ilallah wa rasuulih), dan Allah akan memberikan balasan untuknya.
Sebaliknya, barangsiapa yang berhijrah dengan niat untuk mendapatkan keuntungan duniawi, maka dia tidak mendapatkan pahala apa-apa, bahkan jika ke arah maksiat, ia akan mendapatkan dosa. [Fath]



















