Stockholm, Gontornews — Perdana Menteri Swedia, Ulf Kristersson, sangat khawatir pada konsekuensi yang datang akibat maraknya aksi pembakaran Al-Qur’an di negaranya. Kepada kantor berita Swedia, TT, Kristersson melaporkan banyaknya permohonan izin kepada pihak kepolisian seputar demonstrasi yang disertai dengan aksi penodaan Al-Qur’an.
“Jika permohonan tersebut terkabul, kita akan menghadapi sejumlah risiko serius dalam beberap hari mendatang. Saya sangat khawatir tentang apa yang akan terjadi,” ucap Kristersson sebagaimana dilansir Reuters.
Aksi pembakaran Al-Qur’an di Swedia dan Denmark telah menyinggung banyak negara muslim termasuk Turki. Sebagaimana diketahui, Turki merupakan ‘pendukung utama’ masuknya Swedia dalam keanggotaan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Swedia berharap dapat bergabung dengan NATO seiring dengan invasi Rusia ke Ukraina sejak tahun 2022 silam.
Kedutaan besar Swedia di Baghdad diserbu dan dibakar oleh warga Irak pascapembakaran Al-Qur’an di Stockholm, oleh Salwan Momika, pada 20 Juli 2023. Ratusan warga Irak, mayoritas pendukung tokoh kharismatik Syiah Muqtada Sadr, yang berdemonstrasi menunjukkan rasa marahnya karena pihak kepolisian Swedia mengizinkan demonstrasi yang disertai dengan aksi penodaan terhadap Al-Qur’an.
Meski demikian, Kristersson mengatakan pemberian izin terhadap demonstrasi tersebut berada di tangan pihak kepolisian. Dinas Keamanan Swedia, Säkerhetspolisen (SAPO), telah menetapkan tingkat ancaman 3 dari skala 5 terkait ancaman demonstrasi dan aksi pembakaran Al-Qu’ran yang terjadi. Belakangan, pimpinan kepolisian melaporkan peningkatan reaksi yang terjadi pascaterjadinya aksi provokatif tersebut baru-baru ini.
“Swedia telah berubah dari negara toleran menjadi negara anti-Islam,” ungkap Charlotte von Essen, pimpinan SAPO.
Denmark dan Swedia menyatakan penyesalannya terhadap aksi pebakaran Al-Qur’an dalam beberapa waktu terakhir. Terlebih, pemerintah tidak dapat mencegah aksi tersebut karena konstitusi memperbolehkan dengan dalih kebebasan berbicara.
Menteri Luar Negeri Swedia, Tobias Billstrom, mengaku pihaknya telah berhubungan langsung dengan sejumlah menteri luar negeri dunia Islam. Selain Iran, Irak, Aljazair dan Lebanon, Billstrom juga terus berhubungan dengan Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dan Sekretaris Jenderal Organisasi Kerjasama Islam (OIC).
“Kami akan membahas masalah ini seraya menekankan ini persoalan jangka panjang sehingga tidak ada perbaikan dalam waktu dekat,” ucap Billstrom. [Mohamad Deny Irawan]





















