Gaza City, Gontornews — Pembangkit listrik di Jalur Gaza telah ditutup setelah kehabisan bahan bakar.
Sekitar dua juta warga Palestina di Gaza hanya dapat menikmati listrik enam jam sehari.
Samir Metir, kepala penyedia listrik Gaza, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa bahan bakar pembangkit listrik yang dibeli dengan dana dari Qatar dan Turki, telah habis.
Dia tidak tahu, kapan wilayah ini akan menerima kiriman lagi, karena ada “sengketa” antara otoritas listrik di Gaza (yang dikuasai Hamas) dengan Otoritas Palestina (yang dikuasai Fatah) di Tepi Barat.
Hamas merebut kekuasaan di Gaza pada tahun 2007 dari Fatah, partai Presiden Palestina Mahmoud Abbas.
Sebuah perjanjian pembagian kekuasaan antara dua faksi di Gaza telah gagal terwujud. Akibatnya, warga Gaza telah mengalami blokade Israel selama satu dekade, yang mencekik ekonomi dan sangat membatasi pasokan barang-barang ke Gaza.
Metir mengatakan pembangkit listrik tidak mampu membayar pajak bahan bakar yang sangat besar yang dikenakan oleh Otoritas Palestina (PA).
“Hari ini kami memiliki listrik sekitar enam jam di rumah. Sekarang mati selama 12 jam ke depan,” kata Ezz Zanoun, seorang fotografer di Kota Gaza, seperti dikutip Aljazeera, Ahad (16/4).
“Besok mungkin bisa lebih buruk,” lanjutnya. [Rusdiono Mukri]

















