Al-Ṭariqatu Ahammu mina al-Maddah atau Metode lebih penting daripada materi. Falsafah ini masyhur di kalangan santri Pondok Modern Darussalam Gontor. Meski alumni Gontor dikenal sebagai pendidik tulen, faktanya penerapan falsafah tersebut ternyata bisa dilakukan di semua sektor, termasuk dalam aktivitas sosial kemasyarakatan.
Almarhum Kiai Abid Marzuki mungkin salah satu yang menerapkan falsafah ini dengan baik. dalam menyampaikan uneg-uneg-nya atas realitas sosial, tidak jarang Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor 1980 ini menyampaikannya dengan jenaka dan banyolan. Salah satu kritik sosialnya dengan menggunakan “kolam ikan lele”.
Sepintas, tidak ada yang salah dengan kolam lele yang identik dengan lahan luas dengan kedalaman kolam 1-1,5 meter. Pun dengan ikan lele yang dikenal sebagai spesies ikan tawar yang dapat hidup di lingkungan dengan ketersediaan makanan yang ‘apa adanya’. Bahkan, dalam kisah beberapa peternak, jika sudah lapar, lele bahkan tidak segan untuk menyantap kawanannya demi bisa bertahan hidup (survival mode).
Belum lagi cerita para pemancing yang selalu teduh, tenang dan hening di pinggir kolam sembari menunggu umpannya dimakan oleh lele. Tapi, Kiai Abid menggunakan kolam lele untuk mengkritik penanganan jalan berlubang di sekitar kediamannya, di Ujung Harapan, Babelan.
Alkisah, pascakesepakatan pembangunan kilang minyak pertamina di Kampung Wates Babelan terjalin, jalanan dari Teluk Pucung ke Babelan dipenuhi truk-truk jenis dump truk. Akibatnya, jalanan utama di wilayah tersebut menjadi berlubang dan bahkan menyebabkan banyak kasus kecelakaan.
Kiai Abid, yang geram dengan tidak adanya pertanggungjawab dari pihak berwenang, lantas berinisiasi dengan mengadakan lomba mancing di kubangan jalan berlubang di jalur tersebut. Tidak tanggung-tanggung, aksi ini mendapat sorotan dari pemerintah daerah setempat. Bagaimana tidak, akibat aksi jenakanya itu, perjalanan truk-truk menjadi tersendat dan bahkan tidak jarang perjalanan di sekitar alur menuju Kampung Wates maupun sebaliknya, menjadi tersendat.
“Dulu, ana taruh lele di situ (kubangan jalan berlubang),” kata Kiai Abid saat berbicara di kediamannya di kompleks Pondok Pesantren Attaqwa Putri, Ujung Harapan, Babelan.
Tidak lama setelah aksi jenakanya itu, pemerintah lantas mengajak dialog dengan sejumlah perwakilan masyarakat di sekitar jalan yang dilalui truk-truk besar tersebut. Kiai Abid yang saat itu berkontribusi dalam pembicaraan menyampaikan bahwa, sebenarnya, masyarakat hanya ingin pemerintah peduli dengan jalanan warga yang rusak karena wara-wiri truk di jalan yang tidak semestinya.
Hingga saat ini, jalanan dari Teluk Pucung Bekasi hingga ke Babelan bertahap diperbaiki meski di beberapa titik lubang-lubang di jalanan masih ada. Hanya saja, pasca wafatnya beliau pada Ahad malam 2 Juli 2023, tidak ada lagi tokoh atau masyarakat yang ‘iseng berharap solusi’ seperti yang dilakukan oleh pria Betawi tersebut.
Mungkin Kiai Abid selama hidupnya sering menerapkan falsafah di atas dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dalam mengurai permasalahan sosial, dakwah dan kemasyarakatan. Dengan kultur masyarakat asli Betawi yang demen ngebanyol, Kiai Abid telah menjadi uswah bagi lingkungan sekitarnya.
Dan bagi masyarakat yang mengenal beliau dan masih hidup pasti setuju jika beliau lebih dari sekedar guru (mudarris) melainkan memiliki jiwa sebagai seorang guru (Ruhu al-mudarris). Al-Ṭariqatu ahhamu mina al-maddah, al-Mudarris ahammu mina al-ṭariqah, wa Rūhu al-mudarris ahammu mina al-mudarris nafsihi.
Allāhummaghfir lahu warḥamhu Wa ‘afihi wa’fu ‘anhu.
Waj’ali al-jannata mathwāhu.





















