Sejak dulu Allah SWT telah menugaskan utusan-Nya yakni para nabi dan rasul untuk melakukan revolusi aqidah pada masyarakatnya. Salah satunya Nabi Muhammad SAW. Seorang manusia yang dipilih oleh Allah untuk menerima anugerah yang agung dan dijadikan-Nya sebagai penutup segala nabi dan rasul, dengan membawa syariat yang sempurna hingga akhir zaman. Umat Islam pun mengenal setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal diperingati sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Banyak umat Islam yang memperingatinya sebagai wujud rasa cinta kepada Rasulullah Muhammad SAW.
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam dari UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof Ali Mufrodi menjelaskan, Rasulullah Muhammad SAW lahir dan dibesarkan di Kota Mekkah, yang masyarakatnya percaya kepada Tuhan, tetapi tidak Tuhan yang satu. Misi besar diutusnya Rasulullah itu selaras dengan keadaan moral umat manusia dan khususnya bangsa Arab pra-Islam saat itu yang sedang berada di puncak kemerosotan akhlak. Kemerosotan akhlak seperti menyembah berhala, perbudakan, dan menindas kaum perempuan, diubah sesuai dengan risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah. “Inilah revolusi yang terjadi zaman Nabi Muhammad hingga akhir hayatnya dan menjadi peradaban Islam yang dilandasi tauhid. Dengan demikian maka bisa disebut Nabi Muhammad merupakan pemimpin yang revolusioner,” bebernya kepada Majalah Gontor.
Untuk mengetahui lebih dalam bagaimana kisah revolusioner Nabi Muhammad SAW berdakwah menyebarkan agama tauhid, Reporter Majalah Gontor Muhammad Khaerul Muttaqien mewawancarai alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor itu. Berikut petikan wawancaranya:
Menurut Anda bagaimana revolusi yang dilakukan oleh sang revolusioner Nabi Muhammad SAW?
Berbicara tentang revolusi berarti bicara tentang perubahan sosial. Perubahan sosial ada yang cepat ada pula yang lambat. Perubahan yang lambat, evolusi namanya. Sedangkan revolusi adalah perubahan sosial yang berlangsung dalam waktu yang cepat dan berhubungan dengan pokok-pokok kehidupan manusia. Revolusi juga ada yang direncanakan dan ada yang tidak direncanakan. Nabi Muhammad SAW ini seakan dipersiapkan oleh Allah dalam situasi yang sedemikian rupa. Ketika Nabi Muhammad hidup, dunia sudah maju. Dalam masalah ilmu keduniawian, mereka memiliki kehebatan dalam berniaga bahkan dalam kondisi (musim) yang berbeda sekali pun, yakni berdagang ke negeri Yaman saat musim dingin dan berniaga ke negeri Syam kala musim panas. Disebutkan pula bahwa jauh sebelum Islam diturunkan di Jazirah Arab, sastra telah berkembang pesat di kalangan masyarakat Arab. Peta dunia sebelum Muhammad SAW diutus sebagai nabi dan rasul juga sangatlah kompleks. Peradaban dunia kala itu, berada dalam kondisi jahiliyah. Bangsa Romawi (Rum) dan Persia (Kisra) yang demikian maju dalam menghasilkan produk seni dan arsitektur serta militer nyatanya tidak sebanding dengan keadaan moral yang ironisnya berada pada titik nadir terendah. Selain itu juga banyak orang yang percaya kepada Tuhan, tetapi tidak Tuhan yang satu. Semua itu kemudian diubah oleh Nabi Muhammad sesuai dengan ajaran dari Allah. Inilah revolusi yang terjadi pada zaman Nabi Muhammad dan menjadi peradaban yang terus berkembang menurut perkembangan situasi dan zaman. Perubahan dari kehidupan jahiliyah menjadi terang benderang. Perubahan- perubahan itu diawali dengan Iqra (bacalah).
Bagaimana Nabi Muhammad SAW melakukan revolusi aqidah?
Surat Al Alaq ayat 1 – 5, wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, yang artinya “Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmu Sangat Pemurah. Yang telah mengajarkan penggunaan kalam. Yang telah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya.” Pada ayat itu disebutkan Rabb, Tuhan. Berarti mereka sudah memiliki keyakinan tentang Rabb atau Tuhan. Tetapi Tuhannya berwujud berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah. Yang terkenal Hubal, Latta, Manat dan Uzza. Mereka sudah tahu tentang Tuhan, tetapi Tuhan yang mereka percaya bukan yang menciptakan manusia bahkan diciptakan si penyembahnya.
Nah di situlah mulai revolusinya, ketika Nabi Muhammad SAW memberi tahu kepada umatnya bahwa Tuhan itu satu karena kondisi masyarakat Mekkah saat itu belum bertauhid.
Apa dampak dari dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW?
Dampaknya pun ada yang langsung percaya. Orang pertama yang menyambut dakwah Rasulullah SAW setelah mendapatkan wahyu pertama yaitu istri Rasulullah, Siti Khadijah. Selain itu, ada pula sosok sepupu Nabi Muhammad SAW yakni Ali bin Abi Thalib. Namun banyak pula yang tidak langsung menyambut dakwah Rasulullah SAW. Untuk menerapkan revolusi aqidah yang satu itu ditempuh dengan jalan evolusi bertahap melalui orang-orang yang langsung percaya dan orang yang tidak langsung percaya yang perlahan-lahan mulai meyakini risalah yang diemban Nabi Muhammad. Demikian antara lain revolusi yang pertama kali didengungkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.
Mengapa aqidah lebih dulu didakwahkan?
Karena aqidah ini fundamental. Melalui aqidah yang benar ini nanti semuanya akan diluruskan. Periode Mekkah merupakan periode perjuangan yang berat bagi Nabi Muhammad SAW dalam mengenalkan Islam kepada kaum kafir Quraisy. Setelah lama dakwah di Mekkah, Nabi Muhammad hijrah ke Madinah dan terjadi revolusi aqidah yang disempurnakan dengan syariah yang merupakan evolusi secara bertahap tetapi kemudian menjadi revolusi. Setelah hijrah ke Madinah pada tahun 1 H atau 622 M, jumlah pengikutnya mulai bertambah dan semua tatanan masyarakat Madinah berubah. Politik berubah, misalnya ketika Nabi Muhammad di Madinah, kepala-kepala suku memberikan kepercayaan kepemimpinan kepada Nabi Muhammad. Dari segi hukum, peribadatan dan yang lainnya juga terjadi revolusi dan menjadi peradaban Islam yang dilandasi tauhid. Dengan demikian maka bisa disebut Nabi Muhammad pemimpin yang revolusioner.
Bagaimana cara meneladani beliau?
Rasulullah merupakan suri teladan, contoh yang baik, uswatun hasanah. Saya kira iqra, wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad penting diteladani. Surat inilah yang menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Perubahan-perubahan itu diawali dengan iqra. Dari iqra ini timbul tauhid. Tauhid ini hubungannya dengan rukun iman. Iman kepada Allah SWT, iman kepada Malaikat, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Rasulullah, iman kepada hari akhir dan Iman kepada qadha dan qadar. Fenomena sekarang ini seakan iman kepada hari akhir seperti tidak digubris. Banyak orang berbuat korupsi dan sebagainya sehingga iman kepada hari akhir, bahwa ada hari pembalasan, hari akhir nanti akan dihisab harus diingat. Nah, memberi tahu itu saja sudah memulai yang bagus. Rukun iman ini penting ditekankan kepada seluruh umat Islam terutama kepada para punggawa, pejabat pemerintahan, dan yang lainnya. Saya kira bagus untuk diingatkan agar meneladani Rasulullah SAW. []





















