Di malam kelam yang temaram, bintang gemintang bertanya,
“Wahai hamba-Ku, ke mana kau selama ini?”
Aku tunduk, menunduk malu pada-Nya,
karena hidupku pernah hanyut dalam janji palsu dunia fana.
Angin malam berbisik lirih,
menusuk tulang belulang, mengetuk nurani,
membuka lembaran gambaran dosa yang menggunung,
menyisakan hati yang robek dan jiwa yang pipih dan perih.
Wahai Rabb-kuβ¦
aku datang dari lorong gelap yang panjang,
membawa selaksa dosa yang beratnya bagaikan gunung menggulung,
menyeret secercah harapan yang hampir punah,
memeluk bunga taubat yang nyaris layu di genggamanku yang rapuh.
Dulu aku tertawa di pelukan dunia, dulu aku bangga sebagai Pendosa,
melupakan janji-Mu yang suci,
menutup telinga dari nasihat,
mengunci hati dari cahaya-Mu.
Lidahku kering dari zikir, basah dengan musik hingar bingar,
mataku buta dari ayat-Mu, penuh gambar kemaksiatan kepada-Mu
dan kakiku penuh lumpur- melangkah tanpa arah,
hingga aku tersesat di jalan yang Engkau murkai.
Namun malam iniβ¦
ayat-Mu menusuk hatiku:
> “Fakaifa idzΔ jiβnΔ min kulli ummatin bisyΔhΔ«d⦔
Tubuhku gemetar membayangkan hari ituβ
hari ketika lidah terkunci,
tangan berbicara, kaki bersaksi,
dan aku berdiri tanpa pembela, tanpa daya, tanpa alasan.
Ya Allahβ¦
aku ini santri pendosa,
yang pernah membaca kalam-Mu tapi mengabaikannya,
yang pernah menghafal hadis Nabi-Mu
namun membiarkan maknanya gugur di persimpangan hidupku.
Ampuni aku sebelum nafasku berhenti,
tutupi aibku sebelum bumi menelanku,
bersihkan hatiku sebelum Engkau menimbang amal burukku.
Di ujung malam ini aku mendatangi panggilan Subuh-Mu,
semoga itu bukan panggilan terakhir untukku.
Aku tak punya amal megah untuk dibanggakan,
aku hanya punya air mata yang meleleh,
doa yang gugup di bibir,
dan harapan kecil dan keyakinan besar-
bahwa Engkau masih sudi memanggilku dengan sebutan mesra:
“hamba-Ku” di ujung hidupku.
> “RabbanΔ lΔ tuβΔkhidhnΔ in nasΔ«nΔ aw akhαΉaβnΔ⦔
Ayat ini aku jadikan nyanyian malam-malam taubatku,
pelampung di lautan dosa yang nyaris menenggelamkanku.
Ya Allahβ¦
izinkan aku menangis di sajadah lusuh rumah-Mu ini,
bukan karena takut mati,
bukan karena putus asa, bukan karena kecewa.
Tapi karena aku rindu pulang ke pangkuan-Mu.
Rindu menjadi hamba yang Engkau cintai,
rindu disapa malaikat di pintu surga-Mu,
rindu memandang wajah-Mu
yang selama ini aku abaikan, yang selama ini aku lupakan.
Jangan palingkan wajah-Mu dari mata sayu ini,
mata santri pendosa yang kini hanya ingin sujud,
dan tak bangkit lagi, meski tertatih-tatih untuk melangkah menuju-Mu.
Ya Allahβ¦
di sisa umurku di pesantren yang mulia ini,
jadikan aku pembahagia bapak dan ibuku,
teladan bagi adik-adikku,
mercusuar bagi sahabat-sahabatku yang masih bangga akan dosanya.
Jadikan aku alumnus yang “tandur” jadi guru penanam iman,
yang “tutur” jadi daβi pembawa rahmat sebagai mundzirul qaum,
yang “catur” jadi pemimpin yang jujur,
yang “baur” jadi profesional yang amanah,
bukan yang “ngawur” kembali jadi pendosa.
Ya Allahβ¦
jadikan ilmuku bermanfaat,
lisanku penebar kebenaran,
tanganku penolong sesama,
langkahku penebar kebaikan.
Izinkan aku menjadi buah hati yang membanggakan,
permata bagi kedua orangtuaku,
rahmat bagi keluargaku,
teladan di tengah masyarakatku,
dan cahaya kecil di tengah umat Nabi-Mu.
Ampuni masa laluku yang kelam,
berkahilah sisa umurku yang singkat,
dan wafatkan aku dalam sujud,
dengan hati yang tenang,
seraya bibir ini bergetar menyebut:
“AllΔhumma anta RabbΔ«, ighfir lī⦔
“Laa ilaaha illallaah, Muhammadur Rasulullah”….. []
DA 10 Agustus 2025
*Dr KH Ikhwan Hadiyyin, Khadimul Ma’had Darel Azhar Rangkasbitung, Banten






















