Gagasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan langkah penting. Di satu sisi, kita ingin mengejar “Bonus Demografi” 2030. Di sisi lain, kenyataannya 21,5% anak-anak di Indonesia masih stunting (SSGI 2023). Program ini hadir sebagai jembatan untuk menyelamatkan generasi masa depan Indonesia dari jurang masalah gizi.
Ini bukan jalan yang baru. Negara lain telah berhasil melewatinya. Jepang, saat bangkit pascaperang, berinvestasi besar-besaran pada gizi anak sekolah (program Kyushoku). Amerika Serikat juga membangun fondasi negaranya lewat pendidikan dan kesehatan massal. Pelajaran dari mereka, negara yang sudah maju, jelas: negara yang kuat tidak hanya mengejar angka pertumbuhan ekonomi, tapi berinvestasi paling besar pada kualitas sumber daya manusianya.
Di sinilah letak urgensi program MBG. Nyatanya, niat baik saja tidak cukup efektif. Di lapangan, program ini langsung menghadapi dilema klasik: ‘gizi’ atau ‘selera’.
Ahli gizi pasti sudah merancang menu ideal program MBG, khususnya untuk anak sekolah dengan menu yang penuh nutrisi. Masalahnya, anak-anak sudah terlanjur dibiasakan dan dimanjakan dengan selera yang terbentuk karena kebiasaan makan di rumah maupun luar sekolah.
Baru-baru ini sebuah penelitian di Malang memotret “jurang” ini. Ketika orangtua diberi pilihan (dengan metode itung), dari hasil metode ini terungkap sebuah fakta menarik. Ternyata, menuruti 100% selera orangtua bukanlah jawaban.
Banyak orangtua yang mungkin karena kurang teredukasi cenderung memilih opsi yang praktis atau terjangkau, padahal belum tentu sesuai dengan standar gizi seimbang yang telah ditentukan oleh ahli gizi. Ini fakta lapangan yang tidak bisa diabaikan.
Di sisi lain, jika menu ‘ideal’ yang telah ditentukan ahli gizi dari pusat dipaksa terus berjalan, risiko ditolak pada anak sangat besar. Makanan bergizi itu bisa berakhir menjadi sampah makanan (food waste) bila kurangnya minat anak dalam menghabiskan bahkan mencicipi menu setiap harinya dari program MBG. Sehingga anggaran yang telah disusun dan dikelola sebaik mungkin pun terbuang sia-sia.
Ini ‘kesenjangan’ yang cukup besar antara pengetahuan gizi ideal dan kenyataan di tengah keluarga. Lalu, bagaimana solusinya? Jawabannya yaitu model yang berperan menjembatani, bukan seakan-akan memaksa atau menuruti.
Pertama, ahli gizi harus ‘turun gunung’. Selama ini, mereka mungkin hanya bekerja ‘di balik meja’ merancang menu di pusat, contohnya seperti Jakarta. Pada model baru ini, mereka harus hadir turun langsung di sekolah-sekolah. Peran utama mereka bukan lagi membuat resep, tapi juga menjadi edukator. Mereka harus bisa menjelaskan dengan sabar kepada orangtua, guru, bahkan anak-anak akan pentingnya membiasakan menu sehat dan bergizi, serta alasan mengapa gizi ini krusial untuk kesehatan dan perkembangan otak anak.
Kedua, bisa dengan melibatkan UMKM lokal sebagai motor penggerak. Urusan memasak dan distribusi jangan lagi kaku dan terpusat. Serahkan pada usaha katering lokal yang sudah teruji. Mereka paling paham selera setempat dan lebih mudah dalam menyediakan bahan baku segar. Serta ditambah dengan pendampingan oleh ahli gizi mulai dari menentukan menu menyesuaikan selera setempat, menyediakan bahan baku, memasak, hingga makanan sampai ke penerima sesuai dengan anjuran ahli gizi.
Modelnya kurang lebih dapat meniru suksesnya manajemen katering Jemaah Haji Indonesia. Dalam model katering haji, standar gizi dijaga ketat oleh ahli gizi, namun eksekusinya lincah, rasanya pas di lidah, dan dikerjakan oleh profesional. Kita bisa dan harus meniru ini.
Jika model ini berjalan, kita tidak hanya mencapai satu tujuan. Kita mendapat tiga kemenangan sekaligus:
- Anak-anak mendapat gizi yang benar dan mereka sukai.
- Orangtua perlahan teredukasi, sehingga standar gizi di rumah ikut terangkat.
- Ekonomi lokal (UMKM) bergerak, menciptakan putaran ekonomi baru dan membuka lapangan kerja di daerah.
Ini bukan lagi sekadar program ‘beri makan’. Ini investasi paling cerdas untuk membangun manusia, yang dapat mengedukasi mulai dari keluarga dan menggerakkan ekonomi. Inilah langkah kecil kita yang benar-benar untuk menyelamatkan Bonus Demografi, memastikan dan memaksimalkan kebutuhan gizi dalam satu piring pada satu waktu. []


















