Landasan Teologis
اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمٰنُ وُدًّا
“Sesungguhnya bagi orang-orang yang beriman dan beramal shalih, (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa cinta (dalam hati) mereka.” (QS Maryam: 96)
Asbabun Nuzul
Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang menjadi sebab turunnya ayat ini. Dikatakan ayat ini turun tentang Ali RA. Al-Barra’ bin ‘Azib meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Ali: “Ucapkanlah, wahai Ali: ‘Ya Allah, jadikanlah bagiku janji di sisi-Mu, dan jadikanlah dalam hati orang-orang beriman rasa cinta kepadaku.’’ Maka turunlah ayat ini. Hal ini diriwayatkan oleh Ats-Tsa‘labi.
Ibnu ‘Abbas berkata ayat ini turun tentang Abdurrahman bin ‘Auf. Allah menjadikan bagi beliau rasa cinta dalam hati para hamba-Nya. Tidaklah ada seorang Mukmin yang bertemu dengannya melainkan ia menghormatinya, dan tidak pula seorang musyrik atau munafik melainkan ia memuliakannya.
Interpretasi Para Mufasir
Tafsir As-Sa’di menuturkan, dalam ayat ini disebutkan salah satu nikmat Allah kepada hamba-Nya yang menghimpun antara iman dan amal shalih, yaitu Allah menjanjikan bagi mereka “wuddan” yakni rasa cinta dan kasih sayang dalam hati para wali-Nya, serta penduduk langit dan bumi.
Ketika seorang hamba dicintai manusia, banyak urusannya menjadi mudah. Ia akan memperoleh berbagai kebaikan, doa, bimbingan, penerimaan, bahkan kedudukan sebagai panutan.
Allah menjadikan mereka disenangi oleh makhluk karena mereka mencintai Allah. Maka Allah pun menjadikan mereka dicintai oleh para wali-Nya dan para hamba yang Dia kehendaki.
Sedangkan dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan, Allah Ta‘ala mengabarkan bahwa Dia menanamkan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal-amal shalih yaitu amal yang diridhai Allah SWT karena mengikuti syariat Muhammad SAW. Ini perkara yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari.
Adapun makna “wuddan” menurut para sahabat dan thabi’in, yaitu: 1) Menurut Sayyidina Ali makna “wuddan” berarti cinta, 2) Mujahid mengatakan bahwa “wuddan” adalah rasa cinta yang ditanamkan oleh Allah kepada hamba-Nya di kalangan manusia di dunia, 3) Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibn Abbas bahwa “wuddan” adalah rasa cinta dari kaum Muslimin di dunia, rezeki yang baik, dan lisan yang jujur.
Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, maksud ayat ini ialah orang-orang yang beriman, yaitu mereka yang membenarkan (beriman) dan mengamalkan amal-amal shalih, Ar-Rahman akan menjadikan bagi mereka wuddan yakni rasa cinta dalam hati hamba-hamba-Nya, sebagaimana diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dari hadis Sa‘d dan Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Apabila Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril: ‘Aku telah mencintai si Fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril menyeru di langit, lalu turunlah rasa cinta itu di hati penduduk bumi. Itulah makna firman Allah: Ar-Rahman akan menjadikan bagi mereka rasa cinta. Dan apabila Allah membenci seorang hamba, Dia memanggil Jibril: ‘Aku membenci si Fulan, maka bencilah dia.’ Maka Jibril menyeru di langit, lalu turunlah kebencian itu di bumi.” (HR At-Tirmidzi)
Sementara Tafsir At-Thabari menyebutkan makna ‘’wuddan” menurut para sahabat dan tabi’in ialah: 1) diriwayatkan dari Ali, dari Abdullah, dari Mu’awiyah, dari Ali, dari Ibnu Abbas: “Wuddan berarti cinta; 2) diriwayatkan dari Muhammad bin Sa’ad, dari ayahnya, dari pamannya, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas: Makna wuddan adalah rasa cinta dari kaum Muslimin di dunia, rezeki yang baik, dan lisan yang jujur; 3) Yahya bin Tihlah meriwayatkan dari Syuraik, dari ‘Ubaid Al-Maktib, dari Mujahid: wuddan berarti rasa cinta di tengah kaum Muslimin di dunia; 4) Ibnu Humaid meriwayatkan dari Hakam, dari Anbasah, dari Al-Qasim bin Abi Bazzah, dari Mujahid: Allah mencintai mereka dan menjadikan mereka dicintai oleh makhluk-Nya.
Refleksi Nilai Cinta
Surat Maryam ayat 96 mengingatkan bahwa cinta bukan sekadar emosi, melainkan anugerah ilahi yang diberikan kepada mereka yang menegakkan iman dan amal shalih. Kata وُدًّا dalam ayat tersebut memuat makna cinta yang teduh, penerimaan yang tulus, dan kehangatan relasi antarmanusia.
Dalam konteks pendidikan, ayat ini menghadirkan sebuah refleksi mendalam: bahwa proses belajar tidak hanya berlangsung di ruang kognitif, tetapi juga di wilayah hati dan jiwa.
Nilai-Nilai Pedagogis
Surat Maryam ayat 96 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia. Pertama, Nilai Akidah (Keimanan). Ayat ini menegaskan bahwa iman adalah fondasi utama dalam hidup yang harus kita jaga. Siramilah keimanan kita dengan amal-amal shalih agar mendatangkan cinta Allah.
Ayat ini mendidik pentingnya beriman kepada Allah dan menumbuhkan kesadaran bahwa Allah-lah yang memberi kebaikan dan kasih sayang.
Penting bagi seorang pendidik menerapkan rasa cinta dan kasih sayang kepada peserta didik dalam menjalankan amanah di dunia pendidikan karena dengan sikap cinta dan kasih sayang anak akan berkembang dengan baik karena mereka merasa dunia pendidikan merupakan tempat yang nyaman, aman, damai dan tenang yang melahirkan generasi hebat dan cerdas tanpa adanya permusuhan.
Kedua, Nilai Akhlak. Ayat ini menunjukkan hubungan erat antara amal shalih dengan penghargaan dari Allah yang mendorong manusia untuk berperilaku baik, seperti jujur, penyayang dan menolong. Ayat ini juga menegaskan bahwa akhlak mulia menghasilkan cinta dan penghargaan dari manusia.
Peran pendidik sangatlah penting, karena pendidik menjadi figur keteladanan peserta didik. Jika pendidik penyayang, santun, baik dan jujur, maka akan terlahir para peserta didik yang hebat bukan hanya akademik tetapi juga akhlak yang mulia. Sehingga yang tertanam di hati peserta didik rasa cinta kepada sesama makhluk dan terhindar dari kebencian.
Ketiga, Nilai Sosial. Dalam ayat ini Allah akan menanamkan “wudd”, yaitu rasa cinta, kasih sayang, dan penerimaan di hati manusia bagi orang yang menumbuhkan sikap peduli dan harmonis dalam kehidupan sosial masyarakat dan mengajarkan bahwa kebaikan akan kembali dalam bentuk penerimaan masyarakat.
Guru dan orangtua harus menghidupkan nilai cinta kepada anak di setiap keadaan karena hakikatnya anak terus belajar baik di dalam ataupun di luar kelas. Bekalilah anak kepedulian terhadap orang lain, peka terhadap lingkungan, senang membantu, aktif dalam kegiatan sosial dan lainnya. Sehingga anak tumbuh menjadi anak yang disayangi banyak orang dan bermanfaat.
Keempat, Nilai Spiritual. Dalam ayat ini disebutkan bahwa kedekatan dengan Allah akan menumbuhkan ketenangan dan cinta dalam hati. Ayat ini mendorong seseorang untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan menyadarkan bahwa cinta Allah lebih tinggi dari cinta manusia.
Guru dan orangtua harus mendidik peserta didik agar menjaga nilai spiritual melalui pembiasaan dalam dunia pendidikan dan keteladanan nyata melaksanakan kewajiban seperti shalat 5 waktu yang dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari. Ajari anak agar senantiasa bergantung kepada Allah dan menjadikan Allah sebagai tujuan hidup-Nya.
Landasan Teoretis
Cinta dalam perspektif sufistik memiliki dimensi mendalam, melampaui sekadar hubungan antarmanusia (Ghazali, 1993). Dalam tradisi sufi, cinta dilihat sebagai jalan menuju Tuhan. Cinta tidak hanya terbatas pada bentuk fisik atau emosional, tetapi juga berakar pada rasa kerinduan spiritual yang mendalam terhadap Tuhan (Arabi, 2013).
Dalam tingkatan tertentu, cinta pada perspektif ini dipandang sebagai perjalanan spiritual yang penuh dengan pengorbanan diri dan penyucian hati (Gharib, 2012). Puncaknya, cinta dimaknai sebagai kendaraan untuk mencapai fana (kehilangan diri) dalam diri Tuhan (Razi, 2018).
Dalam arti sederhana, cinta bukanlah perasaan semata, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang melibatkan pengorbanan, ketulusan, dan kesetiaan tanpa syarat melalui pengendalian ego dan nafsu sehingga sampai pada kesucian batin dan menyatu dengan ridha Tuhan.
Realita dan Tantangan Dunia
Berbagai krisis hari ini berakar pada absennya cinta yang menyebabkan kerusakan pada tiga ranah filosofis utama: ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Pada level ontologis, manusia kehilangan kesadaran akan kesatuan realitas sehingga cinta kepada Tuhan, sesama, dan alam melemah.
Pada aspek epistemologis, pengetahuan menjadi terpisah-pisah dan kehilangan dimensi holistik karena tidak lagi ditopang oleh cinta, sehingga manusia cenderung memperlakukan kehidupan secara semena-mena.
Puncaknya, pada ranah aksiologis, muncul krisis moral seperti kekerasan, intoleransi, dan kerusakan lingkungan karena etika tidak lagi dibangun atas dasar cinta. Ketiga masalah ini menunjukkan bahwa hilangnya cinta telah menggerus nilai-nilai luhur dan merusak harmoni kehidupan.
Berdasarkan berbagai masalah yang ada, pendidikan berbasis cinta menawarkan solusi bagi krisis masyarakat modern mulai dari ketidakadilan, kerusakan lingkungan, hingga perpecahan sosial. Dengan menjadikan cinta sebagai prinsip dasar, pendidikan berbasis cinta menanamkan pemahaman bahwa seluruh aspek alam semesta merupakan entitas yang saling terhubung.
Karena itu, dalam pembelajaran, mendidik murid untuk membangun empati, kerjasama, dan tanggung jawab terhadap sesama dan alam merupakan bentuk perawatan atas keterhubungan tersebut.
Allah SWT berfirman:
وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِيْمَانَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَۙ
“Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah. Seandainya dia menuruti (kemauan)-mu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Akan tetapi, Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kemaksiatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran.” (QS Al-Hujurat: 7)
Dalam Tafsir Al-Wajiz dikatakan, “Ketahuilah olehmu bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah SAW, yang sepatutnya dihormati dan dipatuhi semua petunjuknya karena beliau senantiasa dalam bimbingan wahyu Ilahi. Berkat bimbingan Rasulullah SAW, Allah menjadikan kamu dan para sahabat yang setia, cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu sehingga kamu mudah menjaga diri dari dosa serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan sehingga mudah bagi kamu melakukan ketaatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus secara mantap.
Kita sebagai pendidik harus menjadikan Rasulullah SAW sebagai figur keteladanan yang menghidupkan nilai cinta dalam pendidikan agar hati peserta didik penuh dengan cinta, kelembutan dan jauh dari kejelekan.
Sejak masa awal, pendidikan dalam tradisi Islam tidak hanya bertujuan untuk mengajarkan ilmu duniawi, tetapi juga untuk mendidik akhlak dan budi pekerti. Rasulullah SAW sebagai pendidik utama, telah memberikan teladan bagaimana menerapkan cinta dalam pendidikan. Beliau tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kasih sayang, menghormati orang lain, dan memberikan perhatian kepada sesama.
Di zaman Rasulullah SAW pendidikan cinta sangat terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu contoh yang dapat diambil yaitu perilaku Nabi yang penuh kasih sayang terhadap umatnya. Beliau tidak hanya mengajarkan agama, tetapi juga menunjukkan sikap yang penuh kasih.
Rasulullah SAW bersabda:
عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis ini mengajarkan tentang pentingnya cinta dalam hubungan antarsesama. Pendidikan cinta yang ditanamkan oleh Rasulullah SAW mencakup rasa kasih sayang, saling menghormati, dan memprioritaskan kepentingan orang lain. Begitupun tergambar dalam kehidupan masyarakat Madinah yang harmonis dan penuh toleransi.
Ibnu Rajab Al-Hambali dalam kitab Jaami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam berkata mengenai hadis di atas, “Di antara tanda iman yang wajib yaitu seseorang mencintai saudaranya yang beriman lebih sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ia pun tidak ingin sesuatu ada pada saudaranya sebagaimana ia tidak suka hal itu ada padanya. Jika cinta semacam ini lepas, maka berkuranglah imannya.”
Dalam menghidupkan nilai cinta, guru bukan sekadar pengajar (mu’allim), tetapi pembimbing ruhani (murabbi), bahkan mursyid (petunjuk kebenaran), sedangkan siswa dan mahasiswa bukan semata pembelajar, tetapi peziarah makna dan pencari hikmah. Menurut Imam Al-Ghazali, cinta adalah kebaikan dan bersumber dari curahan kasih Allah SWT kepada hamba-Nya. Cinta juga mendamaikan, memberikan kebaikan, dan melatih pribadi untuk terus menjadi seorang hamba yang lebih baik lagi.
Kasih sayang dan saling mencintai memiliki keutamaan yang istimewa, Nabi Muhammad SAW mengabarkan bahwa orang yang berkasih sayang akan disayangi Allah SWT dan disayangi penduduk bumi serta penduduk langit. Rasulullah SAW bersabda:
الرّاحِمُوْنَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمٰنُ، اِرْحَمُوْا أَهْلَ اْلأَرْضِ يَرْحَمُكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang saling berkasih sayang akan disayang oleh Zat yang Maha Penyayang. Maka sayangilah penduduk bumi maka Allah yang berada di atas langit akan menyayangi kalian.” (HR Abu Dawud).
Oleh karena itu saling menyayangi akan mengantarkan kepada ridha Allah sehingga peserta didik memperoleh kemudahan, keberkahan dan menjadi pribadi yang taat serta berakhlak mulia.
Cara Menghidupkan Nilai Cinta
Lalu bagaimana cara menghidupkan nilai cinta dalam pendidikan? Pertama, menjadi pendidik yang berlemah lembut dan mudah memaafkan. Seorang pendidik merupakan figur bagi muridnya dengan memberikan keteladanan yang baik dan berlemah lembut akan menyentuh hati mereka dalam menguasai pelajaran dan pembentukan karakter. Allah berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ
“Maka, berkat rahmat Allah engkau (Nabi Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Seandainya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan menjauh dari sekitarmu. Oleh karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam segala urusan (penting). Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran: 159)
Kedua, saling mencintai karena Allah. Imam Syafi’i berpesan, “Mata cinta akan menutup dari segala macam cela, sebagaimana mata benci akan melahirkan kejelekan.” Maka dari itu, baik guru maupun murid hendaknya saling mencintai satu sama lain. Maka akan tercipta lingkungan yang damai dan jauh dari permusuhan. Allah berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran: 31)
Ketiga, mendidik peserta didik agar beramal shalih dan jujur dalam setiap keadaan. Pendidik harus menanamkan nilai amal shalih, kejujuran dan pembentukan karakter peserta didik agar mereka sukses dunia dan akhirat. Allah berfirman:
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ ٣٩وَاَنَّ سَعْيَهٗ سَوْفَ يُرٰىۖ ٤٠ثُمَّ يُجْزٰىهُ الْجَزَاۤءَ الْاَوْفٰىۙ ٤١
“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya, bahwa sesungguhnya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya), kemudian dia akan diberi balasan atas (amalnya) itu dengan balasan yang paling sempurna.” (QS An-Najm: 39-41)
Keempat, mendidik takwa dengan pembiasaan ibadah di sekolah/madrasah/universitas serta mengajarkan peserta didik agar kaya hati. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ، الْغَنِيَّ، الْخَفِيَّ
“Sesungguhnya Allâh mencintai seorang hamba yang bertaqwa, kaya (hatinya), dan tersembunyi (yakni: orang yang fokus beribadah dan mengurusi dirinya sendiri)”. (HR Muslim, No. 2965)
Kelima, mengajarkan saling berbuat baik dan tolong menolong di antara peserta didik dan civitas akademika lainnya. Allah berfirman:
وَاَنْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَيْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِۛ وَاَحْسِنُوْاۛ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ
“Berinfaklah di jalan Allah, janganlah jerumuskan dirimu ke dalam kebinasaan, dan berbuatbaiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-Baqarah: 195)
Kisah Teladan
Kisah teladan cinta Rasulullah kepada sahabat dalam Islam dapat dilihat dari berbagai contoh, seperti kesetiaan dan keberanian Abu Bakar saat menemani Nabi bersembunyi di Gua Tsur dalam perjalanan hijrah ke Madinah, kesetiaan dan keberanian Ali bin Abi Thalib yang tidur di ranjang Rasulullah saat malam hijrah, serta pengorbanan Zaid bin Haritsah yang memilih bersama Rasulullah bahkan saat keluarganya datang menjemputnya. Kisah-kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat mencintai dan rela berkorban untuk Rasulullah, dan sebaliknya, bagaimana Rasulullah memperlakukan mereka dengan kasih sayang dan mengangkat derajat mereka.
Mencintai Rasulullah SAW merupakan salah satu bukti keimanan seorang Muslim. Sebaliknya, iman pulalah yang membuat para sahabat sangat setia mendampingi beliau, baik dalam susah maupun senang, dalam damai maupun perang. Kecintaan itu bukan hanya di lidah, melainkan terwujud dengan perbuatan nyata.
Kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW inilah pula yang menggerakkan mereka menyebarkan Islam, berdakwah ke seluruh penjuru dunia. Kecintaan luar biasa kepada Rasulullah SAW itu tergambar pada diri seorang perempuan beberapa saat usai Perang Uhud. Dia baru saja kehilangan ayah, kakak laki-laki dan suaminya yang gugur sebagai syuhada. Ia bukannya meratapi mereka, tapi menanyakan nasib Rasulullah SAW, ”Apa yang terjadi pada diri Rasulullah, semoga Allah memberkati dan melimpahkan kedamaian kepadanya.”
Demikianlah gambaran betapa luar biasa kecintaan para sahabat kepada Rasulullah SAW. Untuk mengungkapkan rasa cinta itu, dan kita harus meneladani akhlak beliau, menerapkan sunnahnya, mengikuti kata-kata dan seluruh perbuatannya, menaati perintah dan menjauhi larangannya.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَالْعَمَلَ الَّذِي يُبَلِّغُنِي حُبَّكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي وَأَهْلِي وَمِنْ الْمَاءِ الْبَارِدِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kecintaan-Mu, dan kecintaan orang yang mencintai-Mu, serta amalan yang menyampaikanku kepada kecintaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah kecintaan-Mu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku serta air dingin.” (HR Tirmidzi) []





















